GUNUNGKIDUL –Tanaman padi di sejumlah kecamatan di Kabupaten Gunungkidul terancam gagal panen. Itu akibat terserang bakteri Xantomonas Orise. Bakteri yang menyerang tanaman padi berusia sekitar dua bulan ini menyebabkan daun menguning. Bahkan, mengering.

“Serangan bakteri sudah dua pekan ini,” keluh seorang petani di Desa Putat, Patuk Ranto Wiyatno saat ditemui di area persawahannya Senin (23/4).

Mengetahui serangan bakteri ini, Ranto tak punya pilihan. Dia terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk melakukan penyemprotan.

“Bila tidak disemprot tanaman bisa mati,” ucapnya.

Keluhan hampir serupa diungkapkan petani di Desa Playen, Muji. Dia mengakui bakteri ini belum menyerang tanaman para petani. Kendati begitu, para petani sudah bersiap mengantisipasinya. Caranya, dengan mempersiapkan obat-obatan hasil vermentasi daun-daunan dan kotoran sapi. Sebab, hama yang juga disebut dengan bakteri kresek ini sering menyerang tanaman padi saat mulai menginjak 50 hari.

“Bila ada indikasi langsung disemprot,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Bambang Wisnu Broto mengakui adanya serangan bakteri ini. Namun, dinas baru mencatat serangan bakteri yang terjadi di wilayah Pedukuhan Pengkok. Delapan hektare tanaman padi dipastikan puso.

“Dari 45 hektare, yang rusak sekitar delapan hektare,” sebutnya.

Agar ancaman bakteri tidak meluas, Bambang menegaskan, dinas bakal berupaya melakukan penyemprotan. Kendati cukup terlambat, Bambang meyakini langkah ini dapat meminimalisasi kerugian para petani.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Proteksi Tanaman Pertanian Dinas Pertanian DIJ Suparjono meminta para petani tak perlu khawatir. Yang perlu dilakukan adalah melakukan penyemprotan secara telaten.

“Dan lapor ke dinas,” sarannya.

Kendati begitu, Suparjono menekankan, UPTD tak akan berpangku tangan. UPTD juga melakukan penyemprotan dengan obat-obatan organik.

“Kalau pestisida bisa merusak kualitas padi,” katanya.(gun/zam/mg1)