BANTUL – Daftar pekerjaan rumah Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul bertambah panjang. Kali ini mempersiapkan peserta lomba sesorah tingkat DIJ. Sebab, tidak sedikit penampilan peserta lomba pidato dengan Bahasa Jawa tingkat kabupaten pekan lalu yang perlu dievaluasi.

Kepala Disbud Bantul Sunarto mengungkapkan, ketentuan dalam perlombaan sesorah sangat ketat. Ada beberapa hal yang menjadi penekanan. Di antaranya, busana, sesorah, hingga etika. Busana, misalnya, harus menggunakan gagrak Ngayogyokarto. Nah, beberapa peserta tidak menggunakan aksesori pakaian Jawa tersebut.

“Malah menggunakan aksesori yang seharusnya tidak dipakai,” jelas Sunarto di kantornya Senin (23/4).

Dikatakan, lomba sesorah tingkat DIJ digelar September mendatang. Menurutnya, Disbud bakal memanfaatkan waktu tersisa untuk pembinaan. Harapannya berbagai kekurangan ini dapat diperbaiki.

“Agar bisa juara tingkat DIJ,” harapnya.

Penilaian serupa diungkapkan ketua tim juri lomba sesorah tingkat Bantul Dalyanto. Dia berpendapat tidak sedikit peserta yang kesulitan mengucapkan logat Jawa dengan tepat. Contohnya, “cetho”. Mereka cenderung mengucapkan ‘T’ seperti dalam “mantu“. Hal itu disebabkan siswa SMP maupun SMA belakangan ini terbiasa berbahasa Indonesia.

Kesalahan lain yang kerap dilakukan peserta adalah unggah-ungguh. Menurutnya, etika Jawa sangat ketat. Bahkan, tata cara ngapurancang pun diatur. Karena itu, Dalyanto menyebut, tidak mudah bagi peserta mendapatkan nilai penuh.

Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Disbud Bantul Tri Jaka Suhartaka menyebutkan, lomba sesorah tingkat kabupaten digelar dua hari. Yakni, Sabtu (21/4) hingga Minggu (22/4). Total ada 46 peserta tingkat SMP dan SMA yang terlibat.

“Pemenangnya akan mewakili Bantul di tingkat DIJ,” tambahnya.(zam/mg1)