BAGAS sama sekali tak menyangka, dua tulang tubuhnya patah gara-gara bermain lompat tali. Ketika itu, Senin (26/3), Bagas bermain bersama teman-temannya saat jam istirahat. Karena lompatannya terlalu tinggi, Bagas kehilangan keseimbangan. Kakinya membentur tembok, tangannya menyangga tubuh supaya tak terbentur lantai. Akibatnya, tulang betis kiri dan tulang hasta kirinya patah. Warga Babatan Baru RT 12/RW 39 itu lantas dirujuk ke RSPAU Hardjolukito untuk perawatan. Sampai sekarang Bagas masih menjalani terapi agar lukanya lekas sembuh. “Tiap malam sering susah tidur. Nyeri dari bagian tulang yang patah terasa sampai tangan. Di kaki jgua sama, (nyeri, Red) merembet dari bagian yang patah sampai ujung jari,” ungkapnya.

Setelah hampir sebulan menjalani perawatan anak pertama dari dua bersaudara ini merasa sedikit membaik. Kondisi itu pula yang mendorongnya untuk mengikuti UNBK di sekolah. “Saya ingin buktikan. Meski sakit, tapi masih bisa ikut ujian secara maksimal,” ujar Bagas yang tak ingin dibedakan dengan teman-teman sekolahnya dalam UNBK.

Kebulatan tekadnya pun berbuah manis. Bagas tetap bisa mengikuti UNBK di sekolahnya. Bahkan, sekolahnya juga memberikan fasilitas penggunaan ranjang rumah sakit. Beserta meja kayu dan laptop. Sehingga dia bisa mengerjakan soal ujian dengan nyaman. Kendati demikian, Bagas tidak ditempatkan di ruangan khusus. Dia tetap mengerjakan soal-soal UNBK di ruang komputer sekolah bersama peserta ujian lainnya. Bedanya, Bagas mengerjakan soal ujian di menggunakan laptop sambil berbaring di tempat tidur. Tanpa pendamping. Bagas juga tidak mendapatkan penambahan waktu. “Jadi, pengawas ujian sekaligus berperan sebagai pendamping. Bagas dianggap normal seperti siswa lain, hanya kali ini dia butuh fasilitas khusus untuk menunjang kaki dan tangannya yang butuh perlakuan intensif,” ungkap Kepala Sekolah SMPN 1 Banguntapan Wiharno.

Kebijakan seperti itu sengaja diberikan sekolah agar setiap anak tetap semangat belajar dan mengikuti ujian dengan baik. Sebelum ujian Bagas juga menerima materi latihan soal sama dengan siswa lainnya. “Wali kelasnya tetap aktif memantau perkembangan anak-anak. Anak ini (Bagas, Red) semangat dan tidak banyak mengeluh,” jelas guru 45 tahun ini.

Untuk persiapan UNBK, Bagas mengaku sudah belajar semaksimal mungkin. Saking semangatnya, Bagas rela menginap di sekolah selama empat hari pelaksanaan UNBK. Untuk tempat menginapnya, sekolah menyediakan ruang kelas 9B yang dekat dengan kamar mandi. “Cita-cita saya mau jadi tentara. Jadi tunggu sembuh dulu,” tegas Bagas yang sudah berada di sekolahnya sejak Minggu (22/4).

Bagas tergolong siswa berprestasi, meski sosoknya dikenal sebagai anak pendiam. Dia pernah menjuarai lomba baris-berbaris tingkat kabupaten.

Berkat semangatnya pula Bagas mendapat kunjungan khusus Sekda Bantul Riyantono saat UNBK hari pertama kemarin. “Sesuai dengan namanya, Bagas adalah sosok yang kuat dan pantang menyerah,” puji Toni, sapaannya. (yog/mg1)