KARENA ketahuan mengirimkansurat kepada sahabat penanya di Belanda, Rosa Abendanon, RA Kartini dihukum orangtuanya dengan dikurung di kamar. Tapi ada kakaknya RM Panji Sosrokartono yang datang dan membawakan Kartini buku-buku bacaan dari Belanda.

Kisah perjuangan RA Kartini itu dibawakan perwakilan dari Kecamatan Danurejan Jogja dalam Festival
Langen Carita 2018 di Pendapa Tamansiswa kemarin (21/4). Festival yang baru pertama kali diadakan oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja tersebut mensyaratkan peserta dari 10 kecamatan
adalah pemain anak usia 7-13 tahun. “Maksimal pemain anak 15 ditambahlima pemusik dewasa,” jelas Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dibud Kota Jogja Safrin Norasrini.

Safrin menambahkan Festival Langen Carita atau cerita opera anak itu sengaja memilih cerita legenda Jawa seperti Cindelaras, Arya Penangsang, Timun Emas, Lutung Kasarung, Rara Jonggrang, Aji Saka atau Dhandhung Awuk. Tapi peserta juga diperbolehkan memilih cerita sendiri, seperti Kartini yang dibawakan kelompok dari Danurejan. “Silakan saja, yang jelas tidak lepas dari pakem cerita Jawa,” ungkapnya.

Tiap kelompok diberi waktu tampil 20-25 menit. Nantinya dewan juri menilai penampilan para peserta
dari nilai atau pesan yang disampaikan, musikalisasi, kreativitas, tata artistik hingga tari. Pemenangnya
akan mewakili Kota Jogja dalam festival serupa tingkat DIJ.

Festival Langen Carita, lanjut Safrin sengaja diperuntukkan anak-anak usia SD sebagai upaya nguri-uri budaya lokal Jogja. Apalagi dalam penampilannya tiap peserta harus membawakan dalam Bahasa Jawa. Menurut dia hal itu bisa sebagai upaya melestarikan budaya Jawa agar tidak tergerus budaya modern. “Jadi sejak kecil anak-anak ini kita ajak untuk tidak melupakan akar leluhurnya,” terangnya.

Diakui Safrin sebenarnya di seluruh kecamatan di Kota Jogja sudah terdapat sanggar anak-anak, meski belum semuanya aktif atau rutin berlatih. Dengan diselenggarakannya Festival Langen Cerita diharapkan sebagai upaya untuk nguri-uri budaya adiluhung. (pra/din/mg1)