PANEL SURYA

Sebagai objek wisata (obwis), Pantai Baru bisa disebut mandiri. Betapa tidak, suplai aliran listrik di obwis yang terletak di Desa Poncosari, Srandakan ini tak tergantung perusahaan listrik Negara (PLN). Dikaver pembangkit listrik tenaga hibrid (PLTH). Begitu pula dengan gas pemilik warung kuliner untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Tercukupi biogas. Kemandirian ini hanya karena satu faktor. Pengembangan energi terbarukan.

Begitu memasuki pintu gerbang Pantai Baru, wisatawan bakal disuguhi langsung dengan pemandangan tak biasa.

INVERTER

Ada puluhan kincir angin yang berdiri terpancang di sebelah timur pintu utama. Itulah pembangkit listrik tenaga angin yang menjadi salah satu ikon Pantai Baru.

“Total ada 33 kincir angin,” jelas Ketua Lembaga PLTH Iwan Fahmiharja di kantornya belum lama ini.

Iwan, sapaannya menceritakan, kondisi Pantai Baru saat ini berbanding terbalik dengan sembilan tahun silam. Saat itu sepi. Tak ada satu pun wisatawan yang melirik obwis yang terletak di barat daya wilayah Bumi Projotamansari tersebut. Satu per satu wisatawan mulai menjadikan Pantai Baru sebagai jujugan setelah PLTH dirintis. Persisnya pada Oktober 2010.

DIGESTER

“Yang membangun Kemenristek (Kementerian Riset dan Teknologi) bekerjasama dengan berbagai pihak. Seperti UGM, pemkab dan pemprov,” tuturnya.

Dikatakan, ada sejumlah pertimbangan teknis khusus Kemenristek memilih Pantai Baru sebagai lokasi pilot project. Yakni, kondisi angin di kawasan pantai selatan memadai. Sanggup menggerakkan kincir angin ukuran tertentu secara kontinyu. Alasan lain adalah sinar matahari. Dari itu, Kemenristek tidak hanya mendirikan puluhan kincir angin. Melainkan juga panel surya. Fungsi kincir angin dan panel surya ini saling melengkapi.

“Disebut PLTH karena menggabungkan tenaga angin dan surya,” katanya.

Iwan menyebutkan, kapasitas listrik yang diproduksi setiap kincir angin berbeda. Ada yang berkapasitas 1 kilowatt (KW). Ada pula yang berkapasitas 2 KW, 2,5 KW, dan 5 KW. Bahkan, ada yang 10 KW. Yang pasti, listrik yang dihasilkan dari kincir angin maupun 238 panel surya ini mampu menyuplai kebutuhan 54 warung kuliner. Setiap warung mendapatkan jatah satu ampere atau 225 KW. Lalu, bagaimana bila kincir angin dan surya sel mengalami gangguan? Menurutnya, PLTH memiliki 150 baterai. Kapasitanya 4260 ampere hour.

“Mampu mencukupi kebutuhan semalam,” ungkapnya.

Dibanding PLN, Iwan memastikan, energi terbarukan seperti PLTH jauh lebih praktis. Bahkan, juga lebih efisien dan praktis. Juga mampu menjawab kebutuhan listrik di pulau terpencil. Kendati begitu, proses perawatan PLTH tak mudah. Terutama, suku cadang. Tak jarang pengelola harus membeli di toko online atau di pabrikan langsung.

“Ini kendala bagi di daerah terpencil,” keluhnya.

Teknisi PLTH Baru Suparjiyo mengungkapkan hal senada. Menurutnya, tidak semua kincir angin dioperasikan. Begitu pula dengan panel surya. Itu akibat minimnya ketersediaan baterai. Karena itu, dia berharap pemerintah memberikan bantuan penggantian plus penambahan baterai baru. Agar fasilitas kincir angin maupun panel surya berfungsi maksimal. Toh, usia beberapa baterai di PLTH cukup uzur.

“Makanya kami baru mampu aliri 54 warung. Padahal, total ada 90,” tambahnya.

Bentuk lain energi terbarukan di wilayah Pantai Baru adalah pemanfaatan kotoran sapi sebagai biogas. Berbeda dengan PLTH, pengelolaan biogas ini ditangani Kelompok Ternak Pandan Mulya.

Menurut Ketua Kelompok Ternak Pandan Mulya Hanindyo, instalasi pengolahan kotoran sapi menjadi biogas beroperasi sejak 2012. Itu untuk menyiasati banyaknya kotoran sapi yang terbuang sia-sia. Total ada 225 ekor sapi di kelompok ternak ini.

“Per hari hasilkan kotoran sekitar 1,5 ton,” sebutnya.

Hani, sapaannya mengungkapkan, proses pengolahan kotoran sapi cukup mudah. Caranya, kotoran sapi dari kandang cukup dimasukkan dalam digester. Instalasi ini berfungsi untuk memisahkan kotoran sapi dengan kandungan gas. Total ada 4 digester di kandang yang memiliki 98 anggota aktif ini.

“Satu digester mampu menampung 150 kilogram kotoran,” ungkapnya.

Menurutnya, satu digester mampu menyuplai kebutuhan gas untuk tujuh kompor. Gas disalurkan melalui sambungan pipa. Praktis empat digester ini per hari sanggup mencukupi kebutuhan 28 kompor. Kendati begitu, Hani menilai, instalasi ini masih belum berfungsi maksimal. Banyak yang masih perlu diperbaiki. Di antaranya, penyetelan di setiap sambungan pipa.

“Kalau ada satu kompor yang dimatikan, api kompor lainnya jadi besar sendiri,” sebutnya.

Problem lain adalah penyimpanan gas. Menurutnya, tak jarang gas terbuang sia-sia. Sebab, kelompok ternak belum menguasai metode penyimpanannya. Sekaligus memiliki peralatan penyimpanan gas seperti tabung.

Terlepas dari itu, Hani merasa cukup puas. Sebab, kotoran sapi memiliki nilai ekonomi tinggi. Lagi pula, kotoran sapi yang telah diambil kandungan gasnya masih dapat dimanfaatkan lagi.

“Sebagai pupuk kering dan cair,” tambahnya.(cr2/zam/mg1)