MUNGKID – Indonesia mendapatkan pujian dari masyarakat dunia karena mampu mempraktikkan ajaran Islam sekaligus menerapkan demokrasi. Padahal, negara-negara lain tidak mudah melakukan hal tersebut. Hal ini dikemukakan cendekiawan muslim Ulil Abshar Abdalla di hadapan Komunitas Jamaah Kopdariyah (Jamkop) Magelang Raya yang kembali menggelar kegiatan rutin bulanan di PP Irsyadul Mubtadi’ien Tempursari, Tempurejo, Tempuran, Kabupaten Magelang, Kamis (19/4) malam.

“Meski banyak kekurangan, tetapi yang paling baik dibanding negara-negara Islam. Negara-negara lain menggabungkan Islam dengan demokrasi tidak mudah. Kalau tidak berat demokrasi, mengorbankan agama. Kalau tidak berat agama, mengorbankan demokrasi. Kita bisa seimbang menerapkan demokrasi tidak mengorbankan agama dan menerapkan agama tidak mengorbankan demokrasi,” katanya.

Pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) ini juga menyebut peta global negeri-negeri Islam yakni Timur Tengah, Indopakistan, Asia Tengah, dan Melayu. Kawasan lain yang muncul Islam belakangan ini di barat yaitu Eropa Barat, Amerika, Kanada, dan Australia. Indonesia berada di bagian peta global negeri-negeri Islam kawasan Melayu.

“Berdasarkan peta itu, kawasan Melayu relatif stabil dan mempraktikkan ajaran Islam yang melindungi semua kelompok. Sedangkan negara-negara yang masyarakatnya berbahasa Arab, menghadapi masalah-masalah besar,” tuturnya.

Kajian rutin Jamkop kali ini bertema “Tawaran Nusantara untuk Peradaban Dunia” berkolaborasi dengan komunitas “Republik Terong Gosong” yang dibentuk Cholil Yahya Staquf yang saat ini duduk sebagai Khatib Aam Syuriah PB Nahdlatul Ulama (NU). Hadir sebagai pembicara, Katib Syuriyah PBNU Abdul Ghofur Maimun, KH Ahmad Said Asrori dan dua narasumber dari USA yakni Ilan Berman (Washington DC) serta David Becker (California, USA). Penampilan dari sanggar seni Soreng Wargobudoyo asal Pakis, pentas seni teater “Mendhut Institut” dan grup Music Etnic Jodhokemil, menjadi pembuka kegiatan.

“Kami ingin memuliakan tamu kita dari Amerika yang mulanya ingin bertemu dengan para kiai NU di pusat, akan tetapi kita arahkan kepada Kiai Ahmad Said Asrori selaku tuan rumah, sehingga akhirnya di tempatkan di sini. Kita ingin menunjukkan kepada tamu kita mengenai bagaimana realita-realita yang terjadi di Indonesia. Di mana rakyat saling berbondong-bondong mencapai kemaslahatan seluruh umat yang ada di Indonesia,” terangnya Yahya.

Ulil menegaskan, kesadaran kuat kaum muslim Indonesia tentang Islam Nusantara yang menjadi rahmat bagi semua orang. Hal ini akan membawa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap langgeng dan menjadi contoh bagi upaya-upaya mewujudkan perdamaian dunia.

“Jangan minder sebagai Islam Indonesia, karena kita bisa menerapkan rahmat bagi semua orang. Insya Allah Indonesia langgeng, NKRI contoh dunia. Tetapi, ya itu tidak boleh sombong tetapi juga tidak boleh rendah diri,” tegasnya.

Iland Berman mengaku sangat bangga dan merupakan sebuah anugerah terbesar baginya bisa bertemu serta berdiskusi bersama Jamkop. “Saya bisa paham Islam lebih banyak di sini dibandingkan dengan di kantor-kantor yang ada di Jakarta. Ini merupakan suatu anugerah terbesar bagi saya. Betapa saat ini Indonesia merupakan negara yang berperan besar bagi Amerika,” ujarnya.

Dalam acara itu juga ditampilkan pentas seni bela diri Pagar Nusa dan seni angklung Ki Sodong oleh budayawan Lesbumi NU Kabupaten Magelang Abbet Nugroho. (dem/laz/mg1)