Pengacara kondang yang bergelar Datuk Maharajo Palinduangini memang sosok kelahiran Pulau Belitung 62 tahun lalu. Namun saat mengikuti tradisi nyadran di kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri kemarin (20/4) Yusril menjalaninya dengan khusyuk. Nyadran merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Jawa. Bentuknya doa bersama di makam leluhur setiap bulan Ruwah (penanggalan Jawa) atau sebelum masuk Ramadan.

Kehadiran Yusril bertepatan hari Jumat Kliwon. Dia sampai di Imogiri sekitar pukul 09.30 dengan menumpang mobil Mercy hitam AD 1 ZA. Jalan yang dilalui melalui pintu barat dan berhenti sisi barat kompleks makam raja-raja Mataram Surakarta.

Yusril ditemani mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra. Beberapa pengurus Partai Bulan Bintang (PBB) juga terlihat. Yusron tak lain adalah adik Yusril.

Mereka disambut Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta GKR Koesmoertiyah Wandansari atau akrab disapa Gusti Moeng dan suaminya KPH Wirabhumi serta GKR Galuh Kencana.

Yusril dan Yusron kemudian masuk ke ruang transit. Keduanya berganti pakaian. Kakak beradik itu keluar sudah mengenakan beskap warna putih plus blangkon.

“Mari kita mulai dulu dari makam eyang Sultan Agung,” ajak Gusti Moeng. Rombongan kemudian berjalan menyusuri kompleks Imogiri dengan cekeran alias tanpa alas kaki.

Sebelum masuk ke makam Sultan Agung, Yusril dipersilakan duduk di depan pintu makam. Ritual doa dipimpin abdi dalem ngulama diikuti sejumlah abdi dalem Keraton Surakarta dan Jogja. Selama ini makam Sultan Agung dikelola kedua keraton.

Begitu doa selesai, Yusril dipersilakan masuk. Selama beberapa menit, dia memanjatkan doa di depan nisan Sultan Agung. Usai itu dilanjutkan ke makam Ratu Batang, permaisuri Sultan Agung. Begitu selesai, Yusril bercerita soal bau wangi yang tercium dari dalam makam Sultan Agung. “Saya baru kali pertama mencium bau sewangi ini,” timpal Yusron.

Saat berada di tangga pintu keluar, Yusril diberi tahu KPH Wirabhumi keberadaan tempat yang dulunya digunakan Sultan Agung bermeditasi. Bentuknya bujur sangkar ukuran 2 x 2 meter persegi. Selama beberapa menit Yusril bersimpuh sambil memanjatkan doa. Tak jauh lokasi itu juga ada makam Pahlawan Nasional Jenderal TNI GPH Djatikusumo, KSAD pertama.

Selesai dari makam Sultan Agung, Yusril kemudian berziarah ke kompleks Girimulyo, tempat dimakamkan Susuhunan Paku Buwono (PB) X. Sama seperti Sultan Agung, PB X telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Selain ke PB X, Yusril juga berziarah ke PB XI dan PB XII yang ada di samping kanan dan kirinya.

Saat di kompleks PB XII, Yusril bercerita pernah beberapa kali bertemu dengan ayah Gusti Moeng itu pada era 1990-an. Dalam catataan pakar hukum tata negara itu, PB XII merupakan raja pertama yang mendukung proklamasi kemerdekaan RI melalui Maklumat 1 September 1945. “Saya dulu sering bertemu beliau sebelum wafat 2004,” kenangnya.

Dr Purwadi MHum, seorang pakar budaya Jawa mencairkan suasana usai ziarah. Penulis buku biografi Yusril Ihza Mahendra, 100 Persen Klenik: Wahyu Keprabon, Satrio Piningit, Ratu Adil, dan Yusril itu mendendangkan tembang Jawa.

“Wis wancine ambangun negari, Partai Bulan Bintang wis Gumregah, Kondang sinebut PBB”

“Itu tembang karya Sunan Kalijaga,” komentar Yusril begitu mendengarkan tembang itu.

Sebelum meninggalkan Imogiri, konsultan hukum PT Jawa Pos Koran ini bercerita soal sosok Soeharto yang lengser dari jabatan presiden RI pada 21 Mei 1998. “Sampai kapan pun saya hormat dengan Pak Harto. Beliau negarawan. Bayangkan kalau beliau sikapnya seperti Sadam Husein atau Husni Mubarak, apa yang terjadi ?,” ujar pria yang biasa dipanggil Pak Harto dengan sapaan Ril ini. (yog/mg1)