17 tahun melalalng buana di dunia notaris, ternyata tak sedikit cerita yang dapat dibagi oleh Maria Muslimatun, 50, keadaannya yang berkursi roda juga tak mengalahkan semangatnya untuk terus menginspirasi banyak orang. “Saya memilih untuk tidak bergabung di lembaga manapun, karena menurut saya, saya ingin terjun langsung ke masyarakat,” ungkap Maria akrabnya.

Maria ingin melakukan aksi nyata untuk mengaplikasikan sesuatu untuk masyarakat. Salah satu kegiatan yang kerap diikutinya yaitu dengan menjadi relawan pendidikan di beberapa kegiatan. “Saya mau menunjukkan bahwa difabel juga bisa berkontribusi pada kegiatan masyarakat umum, menjadi relawan, maupun menjadi pengajar,” jelasnya.

Menurutnya, teman-teman difabel sudah banyak berkontribusi dalam lembaga. Setidaknya menjadi relawan pendidikan akan banyak mengedukasi anak-anak sekolah beserta gurunya. “Saya saja bisa meraih impian, punya pekerjaan bagus dan penghasilan yang bagus. Seharusnya, anak-anak yang lebih sehat, dengan fisik yang sempurna bahwa mereka harus mampu mencaai cita-cita,” tegasnya. Penikmat musik ini ingin mengedukasi anak-anak, bahwa keterbatasan bukan halangan meraih mimpi.

Menurutnya, Anak-anak difabel kalau diberikan kesempatan untuk terus berkembang mereka bisa. “Saya juga bilang ke gurunya, jangan ada diskriminasi,” jelasnya. menurut wanita yang hobi nongkrong di Epic Coffe ini mengatakan, SLB sebenarnya masih dibutuhkan untuk menangani anak-anak difabel yang tidak bisa mengikuti kelas di sekolah normal, seperti tuna ganda. Tapi untuk difabel yang masih bisa bersekolah di sekolah normal kenapa tidak. Justru seharusnya di dukung. Pemerintah dan sekolah harus menyiapkan fasilitas bagi mereka.

Berbicara mengenai notaris, bagi wanita yang suka melukis sketsa alam ini pekerjaannya kini bukanlah cita-cita. Diceritakan oleh dia, dahulu di masa sekolah Maria lebih cenderung ingin menjadi seorang pengacara. “Dulu terinspirasi dari film LA Law. Hobi banget nonton itu,” tuturnya. Kayaknya, dia berpikir, jadi pengacara seru, karena bisa membantu banyak orang, memecahkan kasus pembunuhan, sepertinya menantang sekali.

Zaman masih SMA sampai kuliah, masih ada keinginan untuk menjadi pengacara. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, dimasa akhir kuliah, kok pengacara sulit sekali bagi kondisi fisiknya. Karena harus ke sana kemari, bolak-balik, mengurusi banyak hal, akhirnya terpikirkan untuk menjadi notaris. “Dua pekerjaan ini, walaupun sama-sama menantang, tapi lebih santai,” tuturnya. Akhirnya setelah berpikir kembali, konsultasi dengan orangtua dan dosen pembimbing. Akhirnya dibolehkan sekolah lagi di UGM ambil notariat.

“Saya selalu punya pemikiran, kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa. Menjadi notaris, lebih banyak berpikir, jarang ada kegiatan fisik,” tandasnya. Karena memang Maria tidak suka bekerja di belakang meja dan mengutak-atik komputer, serta lebih suka berinteraksi dengan orang lain, banyak orang, maupun orang baru. Sehingga pekerjaan sebagai notaris sangat dinikmatinya.

Maria berpesan untuk sesama perempuan, jangan pernah menyerah menjadi seorang perempuan. Walaupun punya banyak keterbatasan, perempuan harus selalu berpikir lebih maju dengan tidak meninggalkan kodratnya sebagai seorang perempuan. “Terserah mau berkarir atau mengembangkan kreativitas tidak masalah asal tidak melenceng dari kodrat sebagai seorang perempuan,” tegasnya. (cr2/ila/mg1)