KULONPROGO – Industri Kecil Menengah (IKM) lokal tidak perlu ambisius untuk menjual produknya di dalam area New Yogyakarta International Airport (NYIA) atau ring satu. Jalur strategis menuju bandara, seperti di sekitar Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS), jalan Sentolo-Prambanan atau jalur Bedah Menoreh dinilai lebih menjanjikan.

Sebab di ring satu atau area bandara biasanya didominasi pemodal besar. Demikian disampaikan Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perdagangan (Disdag) Kulonprogo Dewantoro kemarin.

Namun bagi pengusaha IKM yang memiliki modal besar tidak perlu takut bersaing. Jika bisa menembus pasar di area bandara, tentu lebih baik.

“Hanya saja untuk IKM yang modalnya pas-pasaan lebih efektif jika menyasar pasar yang sekarang ini sudah mulai berkembang. Bisa mendirikan toko makanan khas Kulonprogo, tidak perlu di dalam tetapi di luar bandara atau di jalur menuju NYIA juga bagus peluangnya,” kata Dewantoro.

Jika ada alternatif lain, pasarkan produk ke luar Kulonprogo. Bisa menitipkan produk lewat swalayan berjejaring atau toko-toko di luar DIJ. Langkah ini sebagai upaya meningkatkan penjualan sembari menunggu perbaikan tingkat daya beli.

“Kami terus mendorong pelaku IKM untuk menghasilkan produk berdaya saing dan sesuai selera pasar,” kata Dewantoro.

IKM di Kulonprogo saat ini jumlahnya lebih dari 16.600 unit. Meliputi usaha produksi makanan, kerajinan, mode busana, semen, kayu, bambu dan lainnya. Kecenderungan peningkatannya baru sebesar 5 persen sampai 10 persen, baik itu jumlah IKM, omzet, produksi maupun pelakunya.

“Dari persentase itu, 40 persen di antaranya merupakan IKM kuliner. Mendukung pengembangannya, kami melakukan pendampingan dan memberikan bantuan alat produksi, pelatihan, membantu pemasaran lewat pameran, penjualan lewat daring,” kata Dewantoro.

Kepala Seksi Pengelolaan Informasi Komunikasi Publik (PIKP) Dinas Informasi dan Komunikasi (Diskominfo) Kulonprogo Heri Widada mengatakan Diskominfo siap menginformasikan potensi dan produk lokal supaya lebih dikenal masyarakat.

“Di Kulonprogo sebetulnya banyak potensi lokal yang berkualitas. Namun kurang promosi atau minim proses pemasarannya,” kata Heri.

Pemiik usaha Aneka Olahan Ikan Dwi 888, Misron mengatakan pertama membuka usaha wader krispi dan kerupuk ikan pada 2012. Misron memilih menjajakan produksinya di warung-warung kecil, seperti toko depan RSUD Wates. Usahanya mulai berkembang setelah mendapat bantuan Dinas Perdagangan Kulonprogo.

“Kami juga sudah memasok produk ke swalayan berjejaring di luar Kulonprogo seperti Grup Mirota, Pamela, Amanda, Alfamart, DM, Ambarketawang hingga Trans Mart,” kata Misron.

Menurut dia, usahanya tidak selalu mulus. Ada sejumlah kendala yang dihadapi di antaranya masalah permodalan, promosi dan persaingan produk serupa dari luar daerah.

“Kami rutin konsultasi dengan BPOM untuk menjamin kualitas produk. Kunci utamanya menjaga ramuan bumbu dan komposisi produk agar bisa tetap sama sehingga laku dan diterima pasar,” ujar warga Dusun Cekelan, Desa Karangsari ini. (tom/iwa/mg1)