SEMANGAT: Bondan sedang membungkusi cabai yang akan dijual sore hari.

JARUM jam menunjuk pukul 06.00 pagi di Padukuhan Bogor, Playen, Gunungkidul Kamis (19/4). Bondan Koharali, 17, siap bergegas menuju sekolah yang berjarak beberapa sekitar lima kilometer dari rumahnya.

Sebelum keluar rumah Bondan menyempatkan sekali lagi mengecek isi tas sekolahnya. Di dalam tas warna cokelat lusuh itu terselip buku pelajaran kumal yang tertimbun 12 bungkus plastik berisi cabai rawit.

“Saya bawa cabai untuk dijual sekalian berangkat sekolah,” ungkap Bondan kepadaRadar Jogja, kemudian berlalu membonceng sepeda motor tetangga. Biasanya Bondang pulang-pergi sekolah mengayuh sepeda onthel kecilnya. Beberapa jam kemudian, sebagaimana sekolah lain, pukul 14.00 lonceng SMA Muhammadiyah Wonosari berdentang. Riuh tawa anak-anak pecah keluar dari dalam ruang kelas. Semua pasang mata tertuju kepada Bondan Koharali, si penjual cabai itu.

Anak kedua dari pasangan suami istri (pasutri) Wagino dan Suminah itu memang dikenal sebagai bakul lombok (penjual cabai) di sekolahnya.

Itu yang membedakan Bondan dari teman-teman sebanyanya. Sebagian teman-temannya langsung pulang menuju rumah masing-masing. Ada juga yang mampir main dulu ke tempat tertentu. Tapi tak demikian dengan Bondan. Dia justru sibuk jualan. Baju seragam dibukanya, sehingga dia hanya memakai kaus oblong.

Bondan melangkah meninggalkan gedung sekolah sambil sesekali menjawab ledekan beberapa pelajar putri temannya. Langkahnya gontai memasuki satu per satu rumah warga yang tak jauh dari sekolah.

“Ibu niki kulo saking SMA Muhammadiyah badhe nawakke lombok (Ibu saya siswa SMA Muhammadiyah mau menawarkan cabai, Red),” ucap Bondan di rumah salah seorang warga dekat sekolah.

Pemilik rumah bernama Dwi Mulyani tidak lantas membeli. Dengan suara pelan Dwi lebih dulu bertanya asal muasal cabai yang dibawa Bondan. Termasuk menanyakan harga cabai yang dijual Rp 2.000 per bungkus plastik itu.

Niki halal, mboten le nyolong. Kulo tumbas saking bakul teng pasar lajeng kulo sade malih (Ini halal, bukan hasil mencuri. Saya beli dari penjual di pasar, lalu saya jual lagi, Red),” jawab Bondan.

Tanpa pikir panjang, Dwi pun lantas memborong semua cabai dengan hargaRp 26.000. Dwi membayar dengan uang lebih. Namun dia tak mau menerima kembaliannya. Uang kembalian itu diberikan semuanya untuk Bondan.

“Maafkan saya bu, terima kasih,” ujar anak pertama dari dua bersaudara itu.

Sejurus kemudian, Bondan melangkah kembali ke sekolahnya untuk beristirahat di depan gapura.

Dia mengaku lega dagangan sudah habis. Di sela itulah dia lantas berbagi cerita mengenai aktivitasnya di luar jam sekolah.

“Jualan cabai untungnya banyak ketimbang komoditas lain seperti bawang atau bumbu dapur lainnya,” ujar Bondan membuka obrolan.

Saat stok dagangannya habis, Bondan biasanya mampir di pasar terdekat sebelum pulang ke rumah untuk belanja cabai. Sampai di rumah cabai dibungkus kecil-kecil menggunakan plastik bening.

Setiap kulakan cabai biasanya satu kilogram untuk jenis rawit putih dan setengah kilogram lagi rawit merah. “Tiap kilo jadi 60 bungkus. Tiap bungkus yang kecil saya jual Rp 1.000. Bungkusan yang lebih besar Rp 2.000, biasanya jadi 23 bungkus per kilonya,” tutur Bondan.

Setiap hari dagangannya nyaris habis. Kadang laris manis. Pendapatan Bondan rata-rata bisa mencapai Rp 60 ribu tiap hari. Sebagian ditabung, untuk jajan, dan sisanya untuk modal dan diserahkan kepada orang tua.

Usai bercerita, Bondang bergegas pulang. Dia kembali membonceng sepeda motor tetangganya.

Radar Jogja membuntuti dari belakang. Sampai di rumah Bondan terdengar suara keras seperti benda sedang dipukul.”Itu adik saya,Aziz Fuad Hasan,11, (mengalami autis),” ujarnya.

Pintu rumah terkunci rapat dari luar. Ternyata Azis di dalam rumah sendirian karena orang tuanya pergi ke ladang. “Kalau pintu rumah tidak dikunci adik saya bisa pergi kemana-mana,” ungkap Bondan.

Begitu Bondan membuka pintu rumah, Azis langsung berlari menuju pintu dan menarik tangan Radar Jogja, seperti mengajak ke suatu tempat. Ternyata dia meminta Radar Jogja untuk duduk di sebuah kursi sederhana.

Sesekali Aziz memukul benda-benda yang ditemui. Lalu berlari ke halaman rumah yang dipenuhi pohon jati. Tampak seekor lembu terikat di depan rumah limasan sederhana milik orang tua Bondan.

Bondan mencoba menenangkan adiknya. Namun Aziz tidak bisa berhenti beraktivitas. Bondan pun tak kurang akal. Dia lantas mengalihkan perhatian adiknya dengan mengajak membungkus cabai. Sesekali Bondan mengejar adiknya yang keluar rumah.

Setelah dirasa cukup, Bondan lantas mengajak adiknya bermain atau jajan. Sore harinya, Bondan kembali menjajakan cabai. Kali ini ditawarkan ke rumah-rumah tetangga.

“Selain cabai biasanya saya menjual bawang merah dan kembang turi yang saya dapatkan dari kebun. Tetapi saya tidak mencuri, saya minta kepada pemiliknya. Kalau boleh ya dipetik, kalau tidak cari yang lain,” ucapnya.

Bondan mengaku mulai menjalani aktivitas jualan cabai sejak dua minggu belakangan. Tak hanya jualan, Bondan juga sering mengamen di beberapa tempat keramaian di Wonosari. Ini dilakukannya hanya di akhir pekan. Mengamen bukan menggunakan gitar atau alat musik lain. Tapi hanya bermodal ecrek-ecrek yang terbuat dari kayu dan tutup botol.

Sik penting halal, Mas (yang penting halal, Red),” tegasnya.

Tak lama kemudian, ibundanya, Suminah, datang. Suminah segera masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya yang lusuh setelah menyebrangi sungai pembatas ladang. Sambil memandang putranya yang sedang mengemasi cabai, Suminah lantas ikut nimbrung. Kepada Radar Jogja dia mengaku telah melarang Bondan berjualan. Namun karena semangat Bondan membantu perekonomian keluarga yang begitu besar, hati Suminah pun luluh juga.

Terlebih sang ayah, Wagino, selama ini hanya bekerja sebagai tukang ojek. Itu pun setelah mengalami kecelakaan pada 2008, aktivitas mengojek menjadi terganggu.

Untuk membantu cari nafkah, Suminah setiap pagi jualan sayur keliling di seputaran Wonosari. Itu dilakoninya sebelum berangkat ke ladang.

“Sebagai orang tua sebenarnya tidak tega, tetapi mau bagaimana itu keinginan dia (Bondan, Red),” katanya.

Beban keluarga sederhana ini bisa dibilang memang cukup berat. Apalagi penghasilan keluarga tidak menentu. Sementara Aziz harus rutin mengonsumsi obat saraf dan otak, yang tiap bulannya harus ditebus hingga Rp 450 ribu. Sebab, obat tersebut tidak ter-cover jaminan kesehatan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). “Seharusnya obat itu dibeli setiap bulan. Tapi karena kondisi keuangan saya membelinya hanya saat (Aziz, Red) kejang,” ungkap Suminah memelas.

Kebiasaan Bondan menjual cabai telah diketahui Kepala SMA Muhammadiyah Wonosari Wahyudi. Dia tak mempermasalahkan kegiatan anak didiknya itu di luar jam sekolah. Wahyudi justru sangat apresiatif dengan Bondan yang mandiri. “Hanya, memang harus diarahkan supaya kegiatan belajar Bondan di sekolah tidak terbengkelai,” tuturnya.

Menurut Wahyudi, Bondan tetap bisa mengikuti kegiatan sekolah dengan baik. “Anak ini rajin juga dan bisa mengikuti pelajaran,” kata Wahyudi.

Di mata teman-temannya, Bondan juga menjadi sosok inspiratif. Seperti dituturkan Erika Yeni Risitiyanti, teman sekolah Bondan. Meski kadang ikut-ikutan menggoda Bondan saat jualan cabai, Erika mengaku sangat bangga dengan kemandirian sejawatnya itu. “Kami hanya bercanda kok. Tapi saya lebih senang lihat Bondan jualan daripada mengamen. Kami juga sering membeli dagangannya,” tutur Erika yang diamini teman-teman Bondan lainnya. (yog/mg1)