SLEMAN – Hajad Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang merupakan peringatan jumenengan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X diselenggarakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di beberapa tempat dilakukan prosesi labuhan untuk memeriahkannya. Salah satunya di Petilasan Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo Cangkringan Sleman.

Sebelum labuhan dimulai Senin (16/4)malam dilaksanakan penyerahan uba rampe labuhan dari Keraton yang diterima juru kunci Merapi Kliwon Suraksohargo. Kemudian disimpan di Petilasan. Malamnya, diadakan kenduri Wilujengan, dengan uba rampe meliputi nasi wuduk, nasi golong, ingkung ayam, sayur tempe, dan among-among.

Selanjutnya, diadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Edi Suwondo dengan lakon Jamrud Kalimasada.

Kabid Adat dan Seni Tradisi Dinas Kebudayaan DIY Setiawan Sahli menuturkan, penyelenggaraan wayang kulit merupakan bentuk rasa memiliki terhadap adat dan budaya Keraton Yogyakarta. Serta sebagai bentuk pelestarian kesenian tradisional.

“Puncak ritual upacara adat harus didukung dan selalu dilestarikan, supaya nilai-nilai budaya yang adiluhung ini terus ada di Daerah Istimewa Yogyakarta,” ujarnya.

Upacara ritual ini tidak hanya dilestarikan dan didukung oleh warga Yogyakarta. Melainkan juga masyarakat luar Yogyakarta. Sahli berharap pemerhati Adat dan Tradisi selalu nguri-uri. Baik tradisi di Jawa maupun di luar pulau Jawa. Sebab, hal tersebut merupakan salah satu pemersatu bangsa.

Selain di Gunung Merapi, pagelaran wayang semalam suntuk yang didukung dan difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan DIY ini juga diselenggarakan di Pantai Parangkusumo.

Berbeda pada labuhan di tahun-tahun biasa, labuhan ini terbilang istimewa karena bertepatan tahun dal (sewindu). Labuhan digelar di empat titik berbeda, diantaranya di Pantai Parngkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Wonogiri. (*/a1/zam/mg1)