SLEMAN – Operasi Curat Progo 2018 Polda DIJ berhasil membekuk 60 pelaku pencurian dengan pemberatan (curat). Setidaknya 41 kasus curat dibongkar dalam 12 hari operasi sejak 3 April.

Direskrimum Polda DIJ Kombespol Hadi Utomo mengatakan keseluruhan pelaku rata-rata bergabung dalam sindikat. Mereka melakukan kejahatan secara berkelompok dan bagi tugas.

“Operasi Curat Progo 2018 melibatkan 240 personel dari seluruh kesatuan wilayah dan Ditreskrimum Polda DIJ. Operasi ini untuk menekan angka kejahatan di DIJ,” kata Hadi di Mapolda DIJ kemarin (18/4).

Hadi mengatakan setiap sindikat memiliki target berbeda. Salah satunya sindikat pencuri spesialis rumah kosong. Beranggotakan tiga sampai lima orang atau lebih. Setiap anggota memiliki peran terinci.

Sebelum beraksi, pelaku melakukan survei. Tujuannya mengetahui kondisi rumah dan sekitar. Termasuk mengetahui sistem keamanan dan rute pelarian.

“Mereka ini bukan sindikat kecil, karena perhitungan operasi dan targetnya matang. Seperti sindikat dari Semarang, bahkan menginap di hotel bintang lima kawasan Jalan Laksda Adisutjipto selama beraksi. Target pencurian mencapai ratusan juta rupiah,” ujarnya.

Guna memuluskan aksinya pelaku mengoper barang curian. Awalnya menggunakan sepeda motor untuk melarikan diri. Selanjutnya barang diberikan kepada pelaku lain yang mengendarakan kendaraan roda empat.

Radar Jogja mengorek modus sindikat Semarang. Beranggotakan DD 50, NHK 45, ALX 40, FRK 38 dan TYN 50. Setiap pelaku memiliki peran masing-masing. Mulai tim survei, pengawas, eksekutor hingga joki kendaraan bermotor.

“Dilihatnya dari kondisi rumah, kalau lampu menyala pada siang hari berarti rumahnya kosong. Dalam satu kali beraksi pernah menggasak hingga kerugian mencapai Rp 85 juta,” kata perwira polisi dengan tiga melati di pundak.

Kasubdit III Jatanras Polda DIJ AKBP Rizki Herdiansyah mengatakan 20 persen pelaku adalah residivis. Berdasarkan data alamat pelaku mayoritas berasal dari luar Jogjakarta. Pertimbangan Jogjakarta sebagai sasaran karena sebagai tujuan utama wisata.

Para pelaku memanfaatkan kelengahan korban. Modus ini tidak hanya menyasar rumah kosong namun juga pencurian gawai hingga kendaraan bermotor. Untuk menghilangkan jejak, barang bukti dijual di luar Jogjakarta. (dwi/iwa/mg1)