SLEMAN – Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) menggelar Kongres Internasional Keperawatan bertajuk “Optimizing Inter-Professional Education (IPE) to Improve Health Care Quality” di Hotel Royal Ambarrukmo Jogjakarta. Kegiatan yang berlangsung 18-20 April ini diawali pra-kongres berupa workshop dengan empat tema terkait, yakni drama in education, developing Evidence Based Practice (EBP) into nursing curriculum, breastfeeding: how to translate health policy to nursing curriculum, dan developing Inter-Professional Education (IPE) in clinical rotation.

UGM adalah salah satu pelopor dalan pengembangan IPE, yang menguatkan kurikulum berbasis kompetensi. Selain itu, Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Padjajaran (Unpad) juga sudah mengikuti pola ini. “Kami ingin mendorong kualitas perawat Indonesia dan berharap lulusannya diakui secara internasional,” ujar Ketua AIPNI Muhamamd Hadi dalam konferensi pers kemarin (18/4). Pihaknya menyadari, kualitas perawat Indonesia masih kurang dibanding luar negeri. Produksi perguruan tinggi (PT) yang terus menerus setiap tahun ditakutkan memberi kejenuhan pasar dan menurunkan daya saing kualitas.

Hadi melihat jumlah institusi pendidikan dengan tingkat serapan di Indonesia cukup tinggi, namun masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. “Di beberapa daerah masih membutuhkan perawat, tapi lulusan maunya hanya bekerja di Pulau Jawa. Jadi terbatas dan tak sebanding, antara yang dikeluarkan dan diterima. Ini yang saya katakan mengalami titik kejenuhan,” jelas Hadi. Kejenuhan itu dinilai dapat menjadi masalah sosial. Menanggapi hal itu, menurutnya, kebutuhan perawat di luar negeri dapat menjadi peluang yang sangat besar dan meningkatkan devisa negara terkait tenaga kerja.

Ketua panitia Lely Lusmilasari dari UGM mengatakan, masih perlu adanya peningkatkan kompetensi dan kemampuan bahasa yang masih lemah, agar mampu menjalin kerja sama luar negeri. “Harapannya, kita membuka mindset bahwa semua institusi pendidikan harus menerapkan model profesional education,” tambahnya. Menyadari masih banyaknya gap dalam pelayanan, Lely menilai perlu adanya saling menghargai untuk menjalin komunikasi yang baik dari berbagai profesi kesehatan.

Untuk diketahui, kongres ini diselenggarakan dua tahun sekali bersama institusi-institusi keperawatan se-ASEAN. Pertama kali diadakan di Thailand pada tahun 2014, kemudian di Taiwan tahun 2016. Pembicaranya didatangkan dari berbagai negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Taiwan. Tahun ini, sebanyak 350 peserta dari dalam dan luar negeri yang hadir akan mempresentasikan hasil risetnya secara oral dan media poster. (cr3/laz/mg1)