Dinas Pariwisata DIY terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) bidang kepariwisataan. Kali ini menyasar para pelaku pariwisata di Kabupaten Gunungkidul. Sebanyak 100 orang peserta dari berbagai pemangku kepentingan mendapatkan pelatihan selama dua hari, 18-19 April 2018.

“Peningkatan sarana dan prasarana pariwisata serta manajemen dan kualitas sumber daya manusia menjadi kebijakan yang kami lakukan,” ujar Sekretaris Dinas Pariwisata DIY Roes Sutikno saat mewakili Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta membuka acara pelatihan di Hotel Grand Dafam Rohan, Jalan Janti-Gedongkuning, Bantul, Rabu (18/4).

Kebijakan itu, lanjut dia, harus diikuti dengan pertumbuhan dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam kegiatan pariwisata. Juga pengembangan objek dan daya tarik wisata agar mampu menjadi unggulan pariwisata bagi DIY.

Selain itu, pengembangan pemasaran untuk meningkatkan kunjungan wisata. “Karena itu harus diperbanyak destinasi yang menarik, sehingga memikat wisatawan untuk datang,” kata Roes.

Dengan mengundang ketertarikan, wisatawan berpotensi membelanjakan uangnya. Karena itulah dia menyarankan setiap pelaku dan pengelola pariwisata harus piawai membuat paket-paket wisata yang menarik.

Dia memberikan ilustrasi. Misalnya pengelola pariwisata membuat paket Rp 5 juta. Dengan paket itu wisatawan dapat berkunjung ke Parangtritis, Imogiri, dan Mangunan, Dlingo. Khusus Dlingo, Roes menyebut kawasan ini tengah berkembang dengan menawarkan beragam destinasi pilihan.

Di antaranya ada Desa Wisata Kaki Langit, Puncak Pinus Becici, Hutan Pinus Pengger dan lainnya. Bahkan mantan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama pernah kepincut dengan keelokan alam Puncak Becici. “Potensi semacam itu harus terus dikembangkan. Termasuk di Gunungkidul yang sekarang juga berkembang dengan destinasi pantai maupun desa-desa wisatanya,” ujarnya.

Sedangkan Widyaiswara Ahli Madya Kementerian Pariwisata Fransiskus Handoko menyatakan, dewasa ini pariwisata menjadi primadona yang terus meningkat. Pembangunan pariwisata Indonesia juga berkembang dengan cepat. “Pariwisata semakin dilirik untuk meningkatkan kesejahteraan,” kata Handoko.

Pesatnya pariwisata Indonesia telah meninggalkan negara tetangga seperti Malaysia. Lawan tangguh Indonesia adalah Thailand. Diakui, pariwisata di Thailand telah lama berkembang. “Kita butuh lawan sebagai sparring patner,” ceritanya.

Pengembangan SDM pariwisata memainkan peranan penting mewujudkan masyarakat sadar wisata. Untuk meningkatkan citra dan kualitas pelayanan, dituntut pengelola dan tenaga pariwisata yang profesional.

Dikatakan, destinasi wisata agar menarik perhatian wisatawan harus memerhatikan 3A. Yakni atraksi, aksesbilitas, dan amenitas. Bila tiga hal itu dijalankan dengan baik, maka potensi pariwisata dapat dikembangkan secara optimal.

Dengan pelatihan itu, Handoko ingin para peserta mampu memahami pengertian daya tarik dan destinasi wisata. Termasuk teknik membuat paket paket dan menjual daya tarik destinasi di daerahnya. “Buat saja paket wisata proses membuat gudeg. Kasih merek, misalnya Gudeg Sultan. Ini akan mengundang ketertarikan orang karena Jogja terkenal dengan gudegnya,” ungkapnya. (kus/laz/mg1)