“Bukan hanya daun cangkring, tapi juga sulurnya yang kami jadikan motif batik khas Bansari,” ungkap Ketua Kelompok Batik Cangkring Muji Lestari saat berbincang dengan Radar Jogja belum lama ini.

Sebelum banyak bicara tentang kelompok industri yang dipimpinnya, Muji lebih dulu bercerita tentang lingkungan tempat tinggalnya yang dahulu kala banyak ditumbuhi pohon cangkring. Pohon ini tak lagi banyak tumbuh di pekarangan rumah warga. Kalah dengan pohon buah atau jenis lain yang bisa dijual kayunya. Padahal, cangkring merupakan ciri khas Bansari. Nah, mengingat manfaatnya yang begitu besar sebagai obat kulit, nama cangkring tetap dilestarikan. Salah satunya sebagai nama kelompok usaha bersama di Bansari. Juga menjadi pakem batik hasil produksi kelompok itu. “Kami pakai kain katun kualitas untuk menjaga produk,” ujar Muji.

Skala produksinya memang belum besar. Masih bersifat home industry. Proses pengerjaannya pun, mulai menggambar pola, mencanting, pewarnaan, hingga pemorotan dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga di rumah masing-masing. Tentu saja ketika mereka punya waktu luang. Atau setelah semua pekerjaan rumah tangga beres. Karena itu produksi batik cangkring belum banyak. Dibuat hanya untuk memenuhi pesanan pelanggan.”Iseng-iseng tapi bisa menghasilkan uang untuk menambah pendapatan keluarga,” ungkapnya. “Itu awalnya, kini kami juga pasarkan lewat media sosial, lho,” sambung Muji berpromosi.

Dalam perkembangannya batik cangkring justru tumbuh menjadi produk unggulan. Peminatnya pun dari kalangan menengah ke atas. Setidaknya itu terlihat dari harga yang dibanderol untuk setiap lembarnya. Batik bercorak sederhana saja dihargai Rp 250 ribu per lembar. Sedangkan untuk corak dan warna kombinasi sedikit lebih mahal. Mencapai Rp 350 ribu per lembarnya. “Untuk pewarna kami pakai bahan-bahan alami,” katanya.

Jaminan kualitas itulah yang membuat batik cangkring yang diproduksi dari pelosok Dusun Bansari bisa merambah kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung. “Pernah juga ada turis dari California, Amerika Serikat datang ke sini membeli batik cangkring,” ungkap Muji.

Yang lebih membanggakan lagi, kata Muji, kelompok batik yang sempat vakum sekian lama sejak dibentuk pada 2014 kini bisa menjadi ladang baru bagi kaum Hawa di Bansari. Bagaimana tidak, kini mereka rata-rata mampu menghasilkan 8-10 lembar batik cangkring per bulan. Dengan pendapatan berkisar Rp 250 ribu-Rp 300 ribu. (yog/mg1)