TABLO: umat Katolik menyaksikan drama Jalan Salib di Pakem, Sleman Jumat (30/3).

JOGJA – Ibadah Jumat Agung di Gereja Santo Yohanes Rasul Pringwulung, Condongcatur, Depok, Sleman Jumat (30/3) diwarnai keteladanan akan pentingnya sikap saling mengasihi dengan kata dan perbuatan.

Di hadapan ribuan umat sore itu, Romo Constantinus Hadianta Pr mengajak merenungkan makna Tri Hari Suci dan Perayaan Paskah dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita harus melihat siapa yang disalibkan pada zaman sekarang ini. Banyak saudara-saudara kita yang sering diabaikan, dijauhi, diperlakukan tidak manusiawi. Yaitu saudara kita yang berkebutuhan khusus dan difabel,” ungkap Romo Hadi, sapaannya.

Untuk menghindarkan diskriminasi, Romo Hadi berharap, setiap warga Jogjakarta harus lebih peka terhadap sesama yang sering mengalami penolakan oleh masyarakat hanya karena keadaan mereka.

Merujuk pada tema kasih sayang itu, kegiatan refleksi Paskah kali ini sedikit berbeda dengan tahun lalu. Tidak berupa peragaan penyiksaan Yesus. Romo Hadi mengajak kaum muda Katolik untuk merenung dengan mendatangi penyandang disabilitas dan membuat video yang memberikan pesan jalan salib kehidupan dan ditayangkan kemarin pagi.

PENGHORMATAN SALIB: Jemaat Gereja Santo Yohanes Rasul Pringwulung mengikuti ibadah Jumat Agung dengan khidmat Jumat (30/3). (ISTIMEWA)

“Mendengar dari mereka yang bisu dan berbicara pada mereka yang tuli merupakan refleksi atas perenungan tersebut,” ungkapnya. Romo Hadi mengajak umat melihat sosok Yesus dari mereka yang berjuang dalam kelemahan, mengasihi orang lain terutama mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.

Sebelum mengikuti ibadah Jumat Agung, umat kristiani menjalani misa Kamis Putih (29/3) malam. Peribadatan dilanjutkan nanti malam dengan misa malam Paskah. Tri Hari Suci ditutup dengan perayaan Paskah besok (1/4) pagi. (ita/yog/mg1)