Bregada Gangeng Reksoyudo berbaris rapi sejak pintu gerbang kampus UKDW menuju halaman. Keberadaan orang berseragam prajurit keraton itu bukan sekadar mengisi kegiatan budaya. Saat itu mereka bersiap menyambut Obor Paskah Nasional. Obor inilah yang dimaknai sebagai simbol perdamaian oleh umat kristiani. Obor diarak dari Danau Tondano, Sulawesi Selatan sejak 18 Maret lalu, dan untuk kali pertama hadir di Jogjakarta tahun ini.

“Subuh tadi sampai di Solo. Setelah Jogja kemudian melewati Kebumen dan jalur selatan menuju Bandung, Jakarta, dan berakhir di Danau Toba,” ungkap Bakti Nendra Prawiro.

Bekti merupakan panitia dari Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) pusat yang mengkoordinasi rute perjalanan Obor Paskah Nasional di wilayah Solo dan Jogja.

Obor tersebut sebagai wujud penghayatan hari raya umat kristiani, yang sekaligus menjadi sarana mempererat persatuan bangsa, sekaligus apresiasi budaya. Juga ajakan kepada seluruh bangsa Indonesia untuk memelihara perdamaian dan kerukunan antarumat beragama. “Api dimakanai memberikan terang, mengusir kegelapan, dan membuat nyaman,” tuturnya.

Ketua Panitia Penjemputan Obor Paskah Nasional Katin Subyantoro menambahkan, UKDW ditunjuk sebagai lokasi kehadiran Obor Paskah Nasional bukan tanpa alasan. Itu merupakan wujud implementasi dari Jogjakarta sebagai kota pendidikan. Juga implementasi daerah istimewa, yang diwujudkan dengan kegiatan penerimaan obor dengan tidak hanya oleh umat kristiani. Tapi juga umat Katolik dan didukung tokoh masyarakat lintas agama. “Api Paskah ini api perdamaian, api persaudaraan. Obor dibawa dari danau ke danau. Karena danau itu sejuk, tenang, dan antardanau saling bersaudara,” jelas Katin yang juga ketua Badan Kerjasama Gereja-Gereja Kristen Jogja. (yog/mg1)