BRIPDA FAJAR ASTUTI (DOKUMENTASI PRIBADI)

BUKAN hal mudah mendaki gunung dengan ketinggian 4.884 mdpl. Apalagi Carstensz Pyramid atau dikenal juga dengan sebutan Puncak Jaya, Papua selalu diselimuti gletser dan salju. Seperti enam puncak tertinggi dunia lainnya, seperti Everest, Aconcagua, Denali, Kilimanjaro, Elbrus, dan Vinson.

Meski butuh perjuangan super berat, dua polwan Polda DIJ terbukti mampu menaklukkan Carstensz Pyramid. Mereka adalah Bripda Berti Kurniawati dan Bripda Fajar Astuti.

Keduanya terpilih menjadi bagian ekspedisi Carstensz Pyramid 2017 setelah bersaing dengan ratusan polwan lainnya.

“Awalnya, saat dikumpulkan di mapolda ditanya siapa yang pernah mendaki gunung. Saya mengangkat tangan. Saat itu belum diberitahu dalam rangka apa,” ungkap Berti saat berbagi pengalaman kepada Radar Jogja beberapa waktu lalu.

Fajar Astuti malah merasa terjebak saat ditanya keinginan untuk mendaki gunung. “Waktu itu saya langsung angkat tangan, tidak tahu kalau untuk mendaki Carstensz. Jelas kaget setelah tahu itu, apalagi orang tua juga cemas,” ungkap dara kelahiran 28 Oktober 1998.

Saat menyampaikan misi tersebut, sambung Fajar, kedua orang tuanya menyangka sebagai pemindahan tugas. Fajar pun diminta untuk mengurungkan niatnya. Namun, dengan penuh keyakinan Fajar akhirnya mampu meluluhkan hati kedua orang tuanya. “Tetap saya jalani dan berhasil,” ujarnya.

Bersama empat sejawatnya, Berti dan Fajar pun diberangkatkan ke Sekolah Polwan di Ciputat, Jakarta untuk mengikuti tahap seleksi. Singkat cerita, hanya Berti dan Fajar yang terpilih mewakili Polda DIJ dalam ekspedisi Carstensz Pyramid bersama 22 polwan dari polda lain.

Sebelum diberangkatkan ke Papua, ke-24 polwan tersebut terlebih dahulu menjalani gemblengan yang hampir mirip dengan saat proses seleksi calon polisi. “Ketahanan tubuh lebih diutamakan dalam gemblengan ini,” ungkap Berti. “Selain latihan fisik dan mental, peserta ekspedisi dilatih panjat tebing di Citatah, Padalarang, Jawa Barat,” jelas perempuan kelahiran 26 Agustus 1993.

Untuk pemanasan mereka harus unjuk gigi dengan mendaki Gunung Gede berulang kali.

Bagi Berti hal itu bukan persoalan. Mendaki gunung bukan ha lasing bagi polwan yang kini berdinas di Direktorat Reserse Kriminal Umum itu. Berti memang hobi mendaki gunung sejak masih kuliah.

Beberapa gunung di Jawa Tengah pernah dia taklukkan. Termasuk Gunung Merapi.

Beda dengan Fajar yang tak punya pengalaman mendaki gunung. Kendati demikian, berkat latihan keras mendaki Gunung Gede, lari, dan berenang membuat tubuhnya benar-benar siap. “Capek? tentu saja, tapi semua rintangan mampu saya lalui,” ujar Fajar.

Kondisi Puncak Jaya memang berbeda dengan gunung-gunung di Indonesia. Yang jelas, kondisi alamnya lebih ekstrem. Begitu pula kondisi cuacanya yang cepat berubah-ubah. Karena itu, sesampai di Bumi Cenderawasih pada 2 Agustus 2017 mereka langsung menjalani aklimatisasi untuk menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu lingkungan.

“Pengalaman di Carstensz itu sangat berbeda. Harus pakai pakaian standar keamanan hingga tiga lapis. Itu pun masih ditambah jas hujan untuk lapis terluar,” kenang Berti. Mengenai cuaca ekstrem, Berti pun mengalaminya. Di tengah pendakian terjadi badai salju dan es.

Sedangkan bagi Fajar, pengalaman yang tak pernah dia lupakan ketika melintasi Burma Bridge, jembatan sepanjang 12 meter yang hanya berupa seutas tali baja di atas jurang sedalam 600 meter.

“Jalannya harus miring dan bertumpu pada tali baja itu. Dalam pelatihan belum diajarkan tentang teknik melewati jembatan ini, tapi semuanya selamat menyeberang jembatan,” ucapnya.

Tantangan lain di tengah pendakian adalah kadar oksigen yang tipis. Kendala ini pun mampu mereka lalui berkat gemblengan selama pelatihan fisik.

Tim berhasil sampai di Puncak Jaya tepat pada hari perayaan kemerdekaan RI 17 Agustus. Sang Merah Putih pun berhasil mereka kibarkan di atas Carstensz Pyramid. Namun itu tak berlangsung lama. Berti dan timnya harus segera kembali turun guna menghindari badai dan mencegah hipotermia. Meski tak lama berada di puncak, mereka berhasil mengadakan upacara bendera dan tercatat sebagai rekor Muri. “Di puncak hanya upacara dan istirahat sekitar 15 menit,” ungkapnya.

Menuruni puncak bukan berarti misi selesai. Keduanya masih harus menaklukkan puncak gunung lainnya. “Saat mendaki, konsumsi wajib hanya cokelat dan pisang. Kedua makanan ini dapat memberi energi dan menjaga tubuh tetap hangat,” jelas anggota Direktorat Sabhara itu.

Selain meraih rekor Muri, tim ekspedisi mendapatkan piagam penghargaan dari Tri Suswati, istri Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian. Itu karena misi pendakian tersebut merupakan inisiasi Kapolri dan istrinya.

“Sangat bangga sekali bisa merampungkan misi pendakian. Aksi ini sekaligus sebagai bukti bahwa polwan bisa berperan dan sejajar dengan polisi laki laki,” ujar Fajar.(yog/mg1)