MUNGKID – RSUD Muntilan masih merawat 11 orang korban keracunan jamu tradisional uyup-uyup. Kondisi mereka terus membaik dan tidak muntah lagi. Adapun gejala atau keluhan yang masih dirasakan para pasien lemas dan pusing.

“Kalau yang muntah sudah tidak ada. Kondisinya stabil,” kata Direktur Utama RSUD Muntilan dr M Sukri MPH Rabu (28/3).

Dijelaskan, penanganan yang dilakukan pihak rumah sakit terhadap para pasien masih berupa penanganan lanjutan di bangsal dan observasi. Ada kemungkinan jika kalau kondisinya semakin membaik, korban keracunan bisa dipulangkan.

“Kami masih menunggu pemeriksaan dokter. Kalau memang ada yang sudah membaik, maka akan dipulangkan,” tuturnya. Terhadap para pasien, rumah sakit tidak akan membebani biaya perawatan. Para korban akan difasilitasi melalui BPJS dan JKN jika mereka terdaftar dalam asuransi kesehatan itu. Atau akan difasilitasi Pemkab Magelang.

“Kalau yang sudah punya jaminan BPJS maupun JKN, nanti menggunakan itu. Sedangkan yang lain difasilitasi pemkab,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan kemarin, pasien atas nama Maesaroh, 28, warga Dusun Treko III, Treko, Mungkid, Kabupaten Magelang, sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan Lusia Afriani, 23, dan Haryanti, 35, warga Dusun Ngloning, Senden, Mungkid, yang sempat dirawat di Ruang ICU telah kembali ke Bangsal Mawar, menjadi satu dengan delapan korban lain.

Seperti diketahui, 11 orang warga keracunan setelah mengonsumsi jamu tradisional jenis uyup-uyup, yang biasa diminum oleh ibu hamil dan menyusui. Jamu gendong itu dijual keliling kampung oleh SW, 56, warga Dusun Treko III, Desa Treko, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. (dem/laz/mg1)