JOGJA- Survei Perkumpulan Relawan Pendidikan Pemilih Cerdas (PRPPC) yang mengidentifikasi 13 nama berpotensi maju sebagai calon anggota dewan perwakilan daerah (DPD) RI dari DIJ menuai beragam komentar.

Ketua DPP Partai Golkar Bidang Ormas dan Pekerja Gandung Pardiman termasuk orang yang ikut disebut-sebut dalam survei. Gandung diprediksi masuk dalam daftar calon yang berpeluang lolos bersama dua politis lainnya. Yakni Wakil Ketua DPRD DIJ Arif Noor Hartanto dan anggota DPR RI asal PDI Perjuangan Idham Samawi. “Itu survei dari mana?” tanya Gandung yang saat dihubungi sedang berada di Jakarta Rabu (28/3).

Anggota DPR RI periode 2009-2014 itu saat ini lebih banyak tinggal di Jakarta. Dia sedang serius menyiapkan deklarasi Jaringan Kerja Rakyat Bersama Jokowi (Jangkar Bejo). Gandung menjabat ketua umum. “Doakan April deklarasi Jangkar Bejo di Jogja,” katanya.

Komentar bernada setengah curiga justru disampaikan Ketua DPW PAN DIJ Nazaruddin. Dia mempertanyakan survei yang dilakukan saat para bakal calon anggota DPD belum definitif.

“Belum tahu siapa-siapa saja yang pasti mencalonkan diri. Apakah survei itu untuk memengaruhi publik bahwa para petahana surveinya masih sangat tinggi?” tanya Nazar, sapaan akrabnya.

Dia juga memasalahkan metodologi survei. Respondennya sama sekali tidak mencerminkan representasi rakyat DIJ. Apa yang disebut tokoh masyarakat belum tentu representasi pilihan rakyat. Apalagi metodenya focus group discussion (FGD). “Mereka yang diundang juga ada unsur subjektivitas pengundang,” tudingnya.

Melihat angka-angka elektabilitas para petahana selain GKR Hemas, sangat tidak menyakinkan. Dari survei itu, dia melihat para petahana akan mudah dikalahkan. Sebagaimana diberitakan kemarin, hasil survei tiga petahana jauh di bawah GKR Hemas yang meraup 48,32 persen suara. Seperti Afnan Hadikusumo yang hanya memeroleh suara 7,48 persen, Hafidh Asrom 8,74 persen, dan Cholid Mahmud 6,71 persen.

Menurut dia, prosentase kecil yang diperoleh pendatang baru sangat wajar. Karena mereka belum begitu dikenal luas masyarakat. Apalagi mereka juga belum secara resmi mencalonkan diri sebagai calon DPD.

Karena itu, dia memertanyakan logika paparan dari angka-angka itu yang disimpulkan para petahana akan terpilih kembali. Apalagi paket petahana dianggap punya visi memertahankan keistimewaan DIJ. “Nuansa kampanye untuk para inkamben kuat dalam rilis survei itu,” tudingnya.

Wali Kota Jogja periode 2001-2011 Herry Zudianto menegaskan sikapnya. HZ, sapaan karibnya, menyatakan tidak tertarik menjadi wakil rakyat. “Saya tidak akan mencalonkan sebagai anggota DPD,” tegas HZ.

Sejak beberapa tahun terakhir, dia menarik diri dari hiruk pikuk politik. Setelah tak menjabat wali kota, ayah tiga anak itu menjabat ketua umum PMI DIJ. Jabatan itu dilepasnya 2017 lalu setelah menjabat dua periode. Terakhir HZ beberapa bulan lalu baru saja pensiun dari ketua RW di Golo, tempat tinggalnya sehari-hari. Ketua RW dijabat HZ selama dua periode.

Keputusan tak maju sebagai calon DPD juga ditempuh BRAy Iriani Widjojokusumo. Langkah itu diambil setelah dirinya tahu Ratu Hemas bakal maju kembali untuk keempat kalinya. “Karena Bu Ratu maju, sebaiknya saya tidak ke DPD,” kata politisi Partai Gerindra ini. Ani, sapaan akrab istri KGPH Widjojokusumo, putra Paku Alam VIII ini, berencana maju sebagai calon anggota DPRD DIJ. “Maju lewat dapil Gunungkidul,” katanya saat ditemui di kantor Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat DIJ.

Sebelumnya Koordinator PRPPC Kunto Nugroho Adnan mengatakan, jika Idham Samawi maju sebagai anggota DPD berpeluang besar menyingkirkan satu DPD petahana. Yakni perwakilan dari Muhammadiyah, NU, dan PKS.

“Bila PDI Perjuangan serius dan solid, Idham akan terpilih. Suaranya di urutan kedua setelah Ratu Hemas,” lanjut Adnan. Sebagai catatan, selama tiga kali pemilu, PDI Perjuangan belum pernah menempatkan wakilnya di DPD.

Pemilu 2009 mengajukan Wakil Ketua DPR RI Soetardjo Soerjogoeritno dan Pemilu 2014 Ketua MPR Sidarto Danusubroto. Namun hasilnya kurang menggembirakan. Kedua politisi gaek itu minim dukungan, sehingga gagal ke Senayan.

Adnan mengakui, PKS sebagai pendukung Cholid Mahmud cukup mapan. Terutama dari kalangan anak muda yang banyak memakai sarana media sosial (medsos). Ada peluang suara PKS naik 15 persen dari suara Cholid pada Pemilu 2014.

Terkait posisi NU dinilai berat karena suara anak muda diambil penguasa medsos dari PKS dan PAN. Jika NU mengajukan KH Hilmy Muhammad yang direkomendasikan PWNU DIJ, dari analisisnya, NU akan kehilangan kursi DPD. Karena dari survei PRPPC, Hilmy berada di urutan 11 dari 13 nama yang disurvei. (kus/yog/mg1)