Prodi Ilmu Gizi Universitas Aisyiyah (Unisa) Jogjakarta mencetak sarjana gizi yang tidak hanya menguasai gizi dan menangani kesehatan saja, namun juga mampu mencegah permasalahan yang lebih luas. Berawal dari lingkup kecil seperti gizi keluarga.

Kendati demikian, Kepala Prodi Ilmu Gizi Unisa Agil Dhiemitra Aulia Dewi mengatakan Unisa tidak membatasi mahasiswa hanya mendalami gizi keluarga. Lebih dari itu mahasiswanya juga diarahkan untuk mendalami semua kompetensi gizi, seperti gizi institusi, gizi klinis, dan gizi masyarakat. Sehingga ketika lulus pun bisa menguasai segalanya.

“Nantinya diharapkan selepas lulus mampu menjadi ahli gizi di pemerintahan seperti Dinkes, Kemenkes, Kemenpora, maupun segala instansi yang membutuhkan ahli gizi,” ujar Agil saat ditemui Radar Kampus.

Dikatakan, prodi ilmu gizi lebih mengedepankan terapan, diarahkan ke makanan yang dimulai dari pangan. “Nanti diperkenalkan ilmu makanan, ilmu bahan makanan seperti apa. Analisis zat gizinya seperti apa. Teknologi pangannya seperti apa,” bebernya.

Karena keunggulan Prodi Ilmu Gizi Unisa mengenai gizi keluarga, maka akan diarahkan untuk mempelajari pemberdayaan gizi keluarga, mulai gizi ibu hamil, menyusui, kemudian bayi hingga dewasa serta lansia.

Pada gizi klinis akan dibekali ilmu penyakit, agar bisa memberikan penilaian gizi. “Ahli gizi biasanya melakukan pengaturan diet bagi pasien. Tentu dasarnya harus mengetahui penyakit pesien dengan belajar fisiologi dan anatomi manusia,” tandasnya.

Ahli gizi juga harus menjadi manager, nantinya harus bisa mengatur penyelenggaraan makanan bagi orang banyak. Biasanya, profesi ini ada pada ahli gizi institusi. “Entrepreneur pun sekarang yang punya ahli gizi itu akan dipertimbangkan sekali. Karena bisa menjadi nilai jual,” tuturnya.

Selain itu, bekerja di industri makanan juga sangat besar potensinya. Misal di quality control pada bagian food industry. Pada usaha katering seperti aerofood di bandara, kereta api, perkapalan, travel haji, dan lain-lain.

Apabila di rumah sakit ranahnya lebih ke gizi klinis. Biasanya akan langsung berhadapan dengan pasien, melakukan penilaian status gizi, penilaian asupan makan, mencoba membuat rencana dietnya, sampai menu makanan. “Dalam praktik akan ada satu menu yang akan diterapkan ke pasien dengan pengawasan pembimbing. Di puskesmas juga memiliki potensi besar, karena sekarang setiap puskesmas wajib memiliki ahli gizi,” katanya.

Dari praktikum mahasiswa diperkenalkan situasi di lapangan, misalnya permasalahan gizi keluarga. Nantinya diturunkan ke lapangan, menganalisa, serta mengatasi sendiri permasalahan yang ada di masyarakat. “Langsung diperkenalkan lebih dini. Agar nanti ketika terjun ke duani kerja tidak kaget karena sudah ada pengalaman sebelumnya,” tuturnya.

Meski baru berdiri pada angkatan pertama, Prodi Ilmu Gizi Unisa memulai mengasah kreativitas mahasiswa dengan aktivitas fisik bersama masyarakat. Dilanjutkan pengenalan dan sosialisasi pentingnya sarapan sehat, banyak mengonsumsi sayur dan buah, mengadakan talk show dan seminar bagi akademisi dan masyarakat.

Harapannya alumni bisa membawa diri dengan baik. Menjadi sarjana gizi yang berkompeten, yang benar-benar sesuai dengan yang diharapkan oleh pengguna yakni stakeholder maupun masyarakat. Selain itu memiliki akhlak muslim yang baik.

“Jika sudah membawa dua prinsip itu, ke depannya pasti akan diakui, dihormati, dan dihargai orang lain. Semoga kualitasnya tidak hanya diakui di tingkat nasional, namun juga internasional,” tambah Agil. (cr2/laz/mg1)