SEPERTI kotoran hewan ternak, selama ini feses gajah hanya dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Tapi siapa sangka jika benda tak bernilai itu bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat dan berdaya guna. Seperti papan komposit buatan Ragil yang berkualitas standar.

Munculnya ide membuat papan komposit dari kotoran gajah sangatlah sederhana. Berawal dari curhatan Agus Sudibyo Jati, mantan mahasiswa Ragil yang bekerja di Taman Safari Pasuruan, Jawa Timur. “Dia (Agus, Red) mengeluh kesulitan mengelola limbah kotoran gajah dalam jumlah yang cukup banyak. Dari situ tercetuslah ide membuat papan komposit ini,” ungkap Ragil saat ditemui Radar Jogja di Laboratorium Rekayasa Biomaterial, kampus setempat, Rabu (28/3).

Ragil mengungkapkan, dalam sehari seekor gajah betina mengeluarkan kotoran sekitar 100 kilogram. Gajah hanya bisa mencerna sekitar 30-45 persen dari rumput-rumputan yang dimakan.

Untuk mendapatkan serat sebagai material papan komposit, kotoran gajah harus diolah dulu beberapa tahap. Pertama, kotoran dibersihkan menggunakan air mengalir, lalu dijemur hingga kering. Hasil akhirnya berupa serat seperti serbuk kering.

Selanjutnya serat tersebut dicampur perekat dan dioven dalam suhu 80 derajat Celsius selama beberapa jam untuk mengurangi kadar airnya. Keluar dari alat oven kemudian dicetak dan dikempa panas dengan suhu 180-200 derajat Celsius selama 10 menit. “Yang kami produksi saat ini adalah papan komposit dalam bentuk display berukuran 25×25 cm persegi dengan ketebalan 1 cm,” ujarnya.

Setiap papan membutuhkan 500 gram bahan yang terdiri atas 400 gram serat kotoran gajah dan 100 gram perekat berbasis asam sitrat dari berat kering partikel.

Ragil lantas mencontohkan pembuatan papan komposit berukuran 1×1 meter persegi dengan ketebalan 1 cm dan kerapatan 0,8 gram/cm³. Dibutuhkan sekitar 7 kilogram kotoran gajah. Tiap 100 kilogram kotoran gajah dapat dibuat 6-7 papan komposit seluas satu meter persegi per harinya.

Untuk membuat komposit berkualitas, Ragil menggunakan perekat berbasis asam sitrat hasil kolaborasi Fakultas Kehutanan UGM bersama Universitas Kyoto. “Perekat ini terbukti mampu menghasilkan produk berkualitas dibanding menggunakan perekat urea formaldehida yang biasanya digunakan dalam produksi papan komposit,” ujar Ragil.

Papan komposit buatan Ragil telah melalui beberapa tahapan uji. Seperti uji lengkung, tarik, lengkung basah, dan rendam. Hasil uji menunjukkan komposit berkualitas di atas standar yang ditentukan Japanese Industrial. Dengan hasil tersebut, Ragi berencana mengembangkan papan komposit itu dalam skala besar. Sebagai bahan furniture dan pembatas dinding rumah.(yog/mg1)