PURWOREJO – Aksi demontrasi menolak pengadaan tanak uruk mewarnai sosialisasi pembangunan Bendungan Bener di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Purworejo (27/3). Warga membawa aneka spanduk dan poster berisikan penolakan terkait aktivitas yang dinilai akan merusak lingkungan tempat tinggalnya.

Warga menilai dampak pembangunan bendungan besar itu akan mengimbas kepada warga di Desa Wadas, di mana ada wacana penambangan tanah dan batu di perbukitan desa itu. Tidak sekadar protes, warga juga sempat walk out dari dalam balai desa saat sesi tanya jawab dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak Jogjakarta.

“Terus terang kami menolak pembangunan Bendungan Bener menggunakan tanah dari Wadas. Kami tidak akan menjual atau tidak mau menerima ganti rugi berapa pun besarannya,” ujar Subhan, salah seorang warga penolak.

Melihat adanya penolakan warga, Kepala Bidang Pelaksana BBWS Serayu Opak Modesta Tandiayu mengaku akan melakukan pendekatan terhadap warga. Diungkapkan, pembanguan itu telah direncanakan sejak tahun 2003. Proses yang telah dijalani adalah analisis mengenai dampak linkungan (amdal) yang dilakukan pada 2013.

“Kami harapkan warga mendukung pembangunan ini. Kami akan terus berupaya memberikan pengertian kepada mereka. Karena jika ditolak, maka akan dialihkan ke tempat lain dan tentunya banyak sekali yang berminat,” jelas Modesta.

Pembangunan bendungan itu sendiri rencananya akan dilakukan mulai tahun ini dan peletakan batu pertama akan dilakukan Presiden Joko Widodo. Keberadaan bendungan ini cukup vital karena akan bisa mengairi 15.519 hektare sawah.

Bangunan bendungan akan memiliki ketinggian 160 meter dengan suplai air 1.500 liter perdetik untuk wilayah Purworejo, Kebumen, dan Kulonprogo. Selain areal persawahan, aliran airnya juga akan digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga air dengan kapasitas 6 mega watt, konservasi, perikanan, dan pariwisata.

Sementara itu, Camat Bener Agus Widiyanto tidak menampik adanya penolakan dari warganya. Tidak saja Wadas, ada beberapa desa lain yang menolak. “Secara umum memang ada penolakan,” katanya.

Di Kecamatan Bener ada tujuh desa yang terdampak pembangunan bendungan itu. Selain Wadas, ada Desa Kedungloteng, Bener, Karangsari, Nglaris, Guntur dan Limbangan sekitar 400 hektare. Lainnya di Kecamatan Gebang, Desa Kemiri dan Kabupaten Wonosobo, dengan total lahan ditambah wilayah Bener seluas 526 hektare.

Penolakan paling keras memang di Desa Wadas mengingat paling banyak terdampak. Ada sekitar 500 warga dengan luasan tanah sekitar 121 hektare, termasuk jalan sebanyak 71 bidang di desa tersebut yang terdampak adanya pembangunan Bendungan Bener. (udi/laz/mg1)