Pariwisata menjadi salah satu unggulan bagi DIY. Ini terbukti dengan adanya predikat Jogja sebagai destinasi budaya dan pariwisata. Seiring dengan itu, Dinas Pariwisata DIY telah menetapkan kebijakan pembangunan dan pengembangan kepariwisataan DIY 2018.

Salah satunya dengan mewujudkan visi menjadikan Yogyakarta pada 2025 sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya terkemuka di Asia Tenggara, berkelas dunia, berdaya saing dan berkelanjutan.

“Pariwisata mampu mendorong pembangunan daerah untuk kesejahteraan masyarakat,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta saat Pelatihan SDM Bidang Kepariwisataan Kabupaten Sleman yang diselenggarakan Dinas Pariwisata DIY di Hotel Tara, Jogja Selasa (27/3). Pelatihan itu berlangsung dua hari hingga hari ini Rabu (28/3).

Pesertanya 200 orang yang terbagi setiap harinya sejumlah 100 orang. Mereka berasal dari beragam pemangku kepentingan seperti guru SMA dan SMK, mahasiswa, tokoh masyarakat, staf kelurahan dan kecamatan se-Sleman serta unsur Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman.

Aris menjelaskan strategi pengembangan pariwisata DIY dengan berbagai langkah. Di antaranya memperluas distribusi wisatawan yang belum merata berbasis daya tarik wisata. Kemudian meningkatkan daya tarik wisata, aksesibilitas dan konektivitas.

Di samping itu, dengan meningkatkan standar kualitas produk, pengelolaan dan pelayanan wisata. “Kami juga meningkatkan daya tarik wisata malam hari dan di luar peak season,” jelas pejabat asal Godean, Sleman ini.

Pengembangan kelembagaan dan SDM pariwisata ikut menjadi perhatian Dinas Pariwisata DIY. Bentuknya dengan meningkatkan kapasitas SDM pariwisata yang profesional dan tersertifikasi.

Instansinya juga melakukan sinergitas antarkelembagaan kepariwisataan maupun lintas sektor di dalam maupun luar daerah DIY. Selanjutnya, mengoptimalkan peran serta asosiasi atau kelembagaan pariwisata dalam mendukung pengembangan kepariwisataan daerah.

“Kualitas dan kapasitas kelembagaan maupun SDM pariwisata kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan desa maupun kampung wisata terus ditingkatkan,” paparnya.

Aris mengakui, keberhasilan pembangunan dan pengembangan kepariwisataan DIY dapat terwujud bila dalam proses awal maupun pelaksanaannya dapat memberdayakan seluruh komponen masyarakat. Salah satu nilai dasarnya adalah sadar wisata.

Sadar wisata, terang dia, merupakan kondisi yang menggambarkan partisipasi dan dukungan semua komponen masyarakat mendorong terwujudnya iklim yang kondusif. Terutama bagi berkembangnya kepariwisataan di satu destinasi atau wilayah.

Di tempat sama, Asisten Deputi Pengembangan SDM Kepariwisataan dan Hubungan Antarlembaga Kementerian Pariwisata Ahmad Suharto sesuai pasal 53 UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, tenaga kerja di bidang kepariwisataan memiliki standar kompetensi. Wujudnya melalui Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia atau SKKNI .

“Standar kompetensi mencakup keterampilan, pengetahuan dan sikap,” terang Suharto. Keterampilan meliputi kemampuan menunjukkan tugas pada tingkat kinerja yang dapat diterima secara terus menerus.

Adapun pengetahuan menyangkut fakta dan angka di balik aspek teknis. Sedangkan sikap terkait kesan yang ditujukan kepada pelanggan dan orang lain yang bersangkutan mampu dalam lingkungan kerja. (*/kus/iwa/mg1)