GUNUNGKIDUL – Potensi umbi-umbian di Kabupaten Gunungkidul sangat besar. Namun sayangnya potensi tersebut belum tergarap maksimal. Salah satu pemicunya masih adanya pandangan mengonsumsi umbi kayu semacam uwi atau ubi kelapa pertanda terjadi krisis pangan.

Kepala Sub Bidang Deposit Pengelolaan Bahan Pustaka Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY Muhammad Rosyid Budiman mengatakan, di masa lalu uwi merupakan salah satu pangan alternatif. Bahkan menjadi penolong di masa-masa paceklik.

Saat kemarau melanda, padi belum bisa dipanen, maka orang akan mengonsumsi umbi seperti uwi. Dalam bahasa latin, uwi dikenal dengan sebutan dioscorea alata. Uwi masuk dalam suku umbi-umbian. Pendapat Rosyid itu mengemuka saat acara bedah buku yang digelar BPAD DIY di Balai Desa Girimulyo, Panggang, Gunungkidul Selasa (27/3).

Editor buku Ubi Kelapa (Uwi) Arief Abdulrakhim mengatakan, setelah diteliti uwi memiliki nutrisi tinggi dengan kandungan karbohidrat yang baik. “Uwi bukan makanan darurat dan berpotensi menjadi makanan pokok,” kata Arief.

Kepala Seksi Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul HK Adinoto menyatakan, program Nawacita Presiden Joko Widodo salah satunya tentang kedaulatan pangan. Bicara kedaulatan pangan tidak dapat dilepaskan dengan ketahanan pangan mandiri. “Melihat potensinya, uwi bisa dikembangkan di Gunungkidul,” kata HK Adinoto. Karena itu, dia mendorong masyarakat agar menggarap potensi umbi-umbian dengan baik. (gun/kus/ila/mg1)