JOGJA- Perebutan kursi anggota dewan perwakilan daerah (DPD) dalam Pemilu 2019 diprediksi berlangsung panas. Ini menyusul munculnya beberapa tokoh berlatar belakang politisi yang disebut-sebut hendak mencalonkan diri menjadi senator mewakili DIJ.

Di antaranya, Ketua DPP Partai Golkar Bidang Ormas dan Pekerja Gandung Pardiman, Wakil Ketua DPRD DIJ dari PAN Arif Noor Hartanto, dan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan Idham Samawi.

Survei yang dilansir Perkumpulan Relawan Pendidikan Pemilih Cerdas (PRPPC) menyebutkan, hadirnya para politisi itu berpeluang mendatangkan kejutan. Salah satunya popularitas Idham Samawi. Dari survei PRPPC, suara yang diperoleh Idham tergolong unggul. Bahkan suara Idham melebihi dukungan yang diperoleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas.

“Di Kabupaten Bantul prediksi suara Idham Samawi 35,2 persen dan Ratu Hemas 33 persen. Ada selisih dukungan sebanyak 2 persen,” ungkap Koordinator Peneliti PRPPC Kunto Nugroho Adnan saat menggelar keterangan di RM Pak Lanjar, Sleman Selasa (27/3).

Lembaga PRPPC ini berpusat di Jalan Kabupaten Trihanggo, Sleman. Saat melansir hasil survei itu, Adnan mengundang Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM Prof Dr Gunawan Sumodiningrat untuk memberikan ulasan.

Meski tertinggal di Bantul, dukungan untuk permaisuri raja Keraton Jogja Sultan Hamengku Bawono Ka 10 itu terbilang masih cukup besar. Di tiga kabupaten, Kulonprogo, Gunungkidul dan Sleman serta Kota Jogja, Ratu Hemas menjadi jawara.

Dukungan terbesar di Gunungkidul 57, 2 persen, Kulonprogo 56, 1 persen, Sleman 51,7 persen dan Kota Jogja 50, 6 persen. Dari survei itu mengindikasikan jika pemilu diadakan hari ini, suara Ratu Hemas banyak tergerus di Bantul. Anggota DPD tiga periode itu tidak lagi mendominasi perolehan suara seperti pada Pemilu 2004, 2009 dan Pemilu 2014.

Dalam surveinya, Adnan juga melansir beberapa nama yang banyak diperbincangkan masyarakat hendak maju sebagai anggota DPD. Mereka adalah Sidarto Danusubroto (anggota Wantimpres), Iriani Widjojokusumo (kerabat Pakualaman), GBPH Prabukusumo (kerabat Keraton Jogja dan Ismarindayani ( istri Roy Suryo). Lalu KH Hilmy Muhammad (Ponpes Krapyak) dan Herry Zudianto (wali kota Jogja periode 2001-2011). Nama-nama itu ditambah empat petahana DPD, GKR Hemas, Hafidh Asrom, Afnan Hadikusumo dan Cholid Mahmud.

“Metodologi yang kami gunakan adalah tracking approach di empat kabupaten dan satu kota se-DIJ. Survei diadakan mulai 1-25 Maret. Respondennya tokoh-tokoh masyarakat dengan metode FGD atau diskusi terfokus dari suatu grup,” terang Adnan.

Responden itu meliputi profesional (15 persen), kalangan agama ( 23 persen), partai politik (46 persen) dan kultural budaya (15 persen). Hasil identifikasi dari berbagai sumber ditemukan 13 tokoh tersebut.

Dari data itu, Ratu Hemas tetap tidak terkalahkan meski muncul nama Prabukusumo yang dipresentasikan darah HB IX. Persaingan ketat terjadi jika PDIP menurunkan Idham sebagai calon DPD, Gandung didukung Partai Golkar dan Herry Zudianto (HZ) disokong masyarakat Kota Jogja, Muhammadiyah, dan PAN.

Dalam kesempatan itu Gunawan Sumodiningrat menilai, potensi kemenangan Hafidh punya skor yang sama dengan Ratu Hemas. Dia memprediksi suara DPD pada Pemilu 2019 masih dimenangkan paket petahana yakni Ratu Hemas, Hafidh, Afnan dan Cholid.

“Mayoritas pemilih memandang paket ini punya satu visi menjaga keistimewaan DIJ. Kerja sama, kekompakan dan keberlanjutan tetap terjaga,” ulasnya.

Namun demikian, cicit raja Solo Paku Buwono X ini memertanyakan keberlanjutan dari survei PRPPC itu. “Pertanyaanya hendak dikemanakan. Ibarat potret, mau didiamkan atau dikasih pigura. Apa, bagaimana dan ke mana?” katanya. (kus/yog/mg1)