SOSOK pengusaha dermawan itu kini telah berpulang. Namun, apa yang biasa dilakukan adik tiri Presiden ke-2 RI Soeharto itu tak akan pernah hilang dalam benak masyarakat. Pun demikian di hati Widoro. Ya, sudah menjadi kebiasaan Probosutedjo membagikan zakat setiap menjelang Lebaran.

“Tapi saat itu ada hoax bahwa yang bagi zakat Pak Probo dan Bu Titiek Suharto yang sedang nyaleg, sehingga dapat dobel, makanya masyarakat yang datang lebih banyak dari biasanya,” kenang Widoro saat ditemui Radar Jogja di Ndalem Purbayan Senin (26/3).

Suasana Ndalem Purbayan kemarin tampak hening. Tak tampak kesibukan apa pun. Itu karena jenazah Probosutedjo langsung disemayamkan di rumahnya yang berada di Kemusuk, Sedayu, Bantul.

Saat ini Ndalem Probosutedjo yang selesai dipugar pada 1983 hanya dihuni emapt pekerja pengusaha sukses itu. Selain Widoro, ada Bambang Sulistyo, Sugeng Wiyono, dan Sukarjo. Bambang merupakan sopir pribadi Probosutedjo. Bersama Sugeng dan Sukarjo, dia mengabdi pada Probosutedjo sejak tinggal di Jakarta. “Yang paling lama Pak Sukarjo, sejak 1978 saat masih rumah di Jalan Diponengoro, Jakarta,” jelas Widoro. Saat Ndalem Purbayan selesai dipugar dan mulai ditinggali pada 1982, Sukarjo ikut diboyong ke Jogja.

Bagi mereka, sosok Probosutedjo merupakan pribadi luhur nan sangat dermawan. Soal kedermawanan Probosutedjo, Widoro punya kenangan lain. Yakni saat peresmian Ndalem Purbayan pada 1982. Ketika itu perayaannya melibatkan pedagang angkringan, ronde, dan penjaja makanan tradisional lainnya. “Semua makanan jadi rayahan warga. Saya juga ikut ngrayah,” kenangnya sambil tersenyum.

ILUSTRASI: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA

Sifat dermawan pria kelahiran 1 Mei 1930 itu ditunjukkan saat pembangunan Museum H.M Soeharto di Kemusuk. Ada kebiasaan dilakukan Probosutedjo untuk menunggui para pekerjanya yang sedang bekerja. Bahkan saat harus lembur. “Kalau lihat ada yang lembur, sering tiba-tiba dikasih uang sama Bapak,” ungkapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Sukarjo, pria kepercayaan Probosutedjo untuk urusan makanan. “Kalau makan beliau biasanya minta ikan laut. Menu favorit lainnya tengkleng, sate klatak, mi Jawa, dan gudeg,” tuturnya. Setiap kali pesan makanan, Probosutejo biasa langsung pada penjualnya. Sekali pesan pun selalu dalam jumlah banyak. “Kalau masih sisa sering

GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA

dibawa ke Jakarta,” ungkapnya.

Kebiasaan membeli makanan tidak hanya untuk dinikmati sendiri. Probosutedjo sering mengajak masyarakat maupun tamunya yang datang ke Ndalem Purbayan untuk makan bersamanya. “Kalau pas wartawan ke sini juga diajak makan,” kenang Sukarjo.

Demikian pula Bambang. Sebelum dijadikan sopir pribadi, Bambang merupakan pegawai Gedung Agung Jogja. Dia mengaku sering diajak makan di luar. Biasanya, jelas Bambang, Probosutedjo minta diantarkan ke warung sate klatak atau Soto Kadipiro. “Kalau gudeg biasanya yang di utara Pasar Beringharjo, pakai pincuk, yang bukanya setelah pukul 23.00,” tuturnya. (yog/mg1)