GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA

JOGJA – Transjogja sebagai kendaraan angkutan umum alternatif ternyata belum bisa menjadi solusi masalah transportasi di DIJ. Keberadaan angkutan publik bertarif murah itu justru dinilai turut andil menyumbang kepadatan dan kemacetan lalu lintas jalanan Jogja. Pun demikian rencana pemerintah membangun bus lane Transjogja.

Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) Arif Wismadi menilai, bus lane bukan solusi mengatasi kemacetan.

Arif mengakui, persoalan infrastruktur transportasi di DIJ cukup pelik. Itu gara-gara pertumbuhan kendaraan tidak diimbangi dengan sarana dan kondisi jalan. Menurut Arif, pembangunan bus lane kurang tepat jika tidak didukung sarana pembatas jalan. Seperti di Jakarta.

Tanpa pembatas jalan, Transjogja tetap akan terjebak kemacetan. Sebab, saat macet pengendara lain belum tentu mau minggir secara sukarela untuk memberikan jalan Transjogja. Padahal tujuan pembuatan bus lane dibuat sebagai pembebas hambatan kendaraan besar itu. “Melihat kondisi jalan di Jogja, bus lane dengan pembatas tampaknya menjadi kendala tersendiri,” ujar Arif Senin (26/3).

Jika pemerintah tetap keukeuh membangun bus lane, maka pemanfaatannya harus berbagi dengan angkutan publik lainnya. Mobil plat kuning, termasuk taksi, harus boleh masuk jalur tersebut. Hal ini guna mengindarkan kemacetan lebih parah. Apalagi lebar jalan di DIJ cukup variatif. Bus lane bisa dibuat dua macam.Berupa double-track untuk jalan yang memiliki sedikitnya empat lajur. Atau single-track di jalan yang relatif sempit.

“Idealnya, bus lane dibangun di tengah jalan guna mengurangi konflik dengan kendaraan yang keluar masuk jalan. Sebab, konflik ini akan menurunkan kecepatan layanan Transjogja,” jelasnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Transjogja Sumariyoto mengakui, sistem bus lane sebagai upaya prioritas Transjogja tidak lantas menyelesaikan persoalan kemacetan. “Hanya, dengan jalur khusus tak akan ada lagi sorotan soal sopir (Transjogja, Red) yang ugal-ugalan,” katanya.

Dikatakan, lembaganya kerap menjadi objek pelampiasan atas kemacetan lalu lintas yang melibatkan Transjogja. Kondisi itu diperparah dengan sopir yang kerap dituding ugal-ugalan. “Karena jalur Jogja padat, makanya kerap terjadi insiden. Tapi kami yang selalu di-bully,” sesalnya Sumariyoto. (bhn/yog/mg1)