73 dokter alumni Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sumatera Utara (USU) Medan Stambuk (Angkatan) 1986, yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Alumni (IKA) FK USU Genius Only (GO) ’86, berkumpul di Jogja dalam rangka Reuni Akbar ke-2.

Selama 4 hari, Kamis (15/3) hingga Minggu (18/3), seluruh alumni melepas kerinduan setelah hampir 32 tahun tidak bertemu. Banyak cerita indah dan kenangan manis semasa kuliah seolah hadir kembali dalam Reuni Akbar kali ini, setelah perhelatan reuni yang pertama di Sibolga tahun 2016.

Ketua Panitia Reuni Kolonel dr. Faisal Singarimbun, Sp.PK. mengatakan tujuan diadakannya reuni ini adalah agar sesama teman alumni tidak putus persaudaraan dan bisa semakin solid. Tidak hanya itu, jumlah peserta juga naik jika dibandingkan dengan reuni 2 tahun sebelumnya. Dari sisi jumlah peserta reuni, Stambuk ’86 ini tergolong istimewa jika dibandingkan dengan angkatan lain. Karena memang jarang ada reuni angkatan yang bisa mengumpulkan peserta lebih dari 60 orang.

“Sedulur Saklawase atau persaudaraan yang abadi menjadi tema reuni kali ini. Selama 4 hari 3 malam kita betul-betul mengenang masa-masa perjuangan dulu hingga berbagi kisah sukses sekarang yang sangat inspiratif. Ada alumni yang sudah menjabat sebagai direktur rumah sakit, Ketua Koordinasi Vaksinasi Nasional di Kemenkes RI, guru besar di perguruan tinggi, dan kepala dinas kesehatan. Sangat fantastis rasanya, apalagi bagi mereka yang 32 tahun tidak bertemu,” tutur Dokter Spesialis Patologi Klinik ini.

Selaku ketua, dr. Faisal sadar benar dibutuhkan strategi khusus untuk menarik minat alumni agar bersedia datang ke Jogja. Dirinya selalu menyempatkan untuk menghubungi langsung via telepon dan chat secara pribadi dan menyampaikan motivasi bahwa tidak ada salahnya menyempatkan waktu 2-3 hari setelah 2 tahun disibukkan oleh aktivitas kerja masing-masing. “Silaturrahmi itu dapat memperpanjang usia, itu saya sampaikan kepada teman-teman, dan itu sepertinya adalah trik yang paling mujarab,” ujar dokter yang didaulat sebagai Komisaris Tingkat (Komting) Forever di angkatannya ini sambil tergelak.

Mengapa memilih Jogja, selain karena adalah daerah tujuan wisata nomor 2, beberapa alumni memang ada yang baru untuk pertama kalinya datang ke kota gudeg ini.

Selama di Jogja, dr. Faisal melanjutkan, alumni diajak untuk lebih mengenal Jogja secara lebih dekat. Kamis pagi (15/3) peserta mulai berdatangan dari Aceh, Medan, Jakarta, Bandung, Jayapura, bahkan ada yang dari Beijing. Di malam harinya, dilakukan syuting video klip dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. Melibatkan 12 alumni yang bersuara emas, syuting mengambil lokasi di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala dengan berpakain adat daerahnya masing-masing.

Jumat (16/3) jam 6 pagi peserta menuju obyek wisata Candi Borobudur dan dilanjutkan dengan rafting. “Ternyata ada salah satu teman yang seumur hidup baru sekali ini mengikuti rafting,” kata Kepala Bagian Penunjang Klinik di RSPAU dr.S. Hardjolukito ini seraya terbahak-bahak.

Kejutan spesial yang sungguh di luar dugaan ternyata telah dipersiapkan oleh dr. Faisal. Tepatnya di saat malam keakraban, lampu tiba-tiba dimatikan, dan diperdengarkan alunan musik tembang dari Ebiet G Ade. Tidak dinyana, setelah lampu kembali dinyalakan, alunan suara ternyata bukan berasal dari alat pemutar musik seperti yang semula dikira. Ebiet G Ade sendiri yang ternyata hadir dan menghibur seluruh peserta reuni. Sontak suasana ajang nostalgia berubah menjadi lebih meriah. “Saya juga merangkap Ketua MemBers EGA, yang artinya Membumi Bersama Ebiet G Ade, yaitu komunitas penyuka lagu-lagu Ebiet,” terang dokter kelahiran Sorong ini.

SemAKin SOlid: ikatan Keluarga Alumni (iKA) Fakultas Kedokteran uSu Genius Only (GO)’86, berkumpul di Jogja dalam rangka reuni akbar.(IKA FK USU 86)

Hari ketiga, dr. Faisal menuturkan, peserta reuni dibawamenujuKaliurang untuk kegiatan Lava Tour, kemudian menuju ke Tebing Breksi, dilanjutkan ke Kampung Wisata dan Budaya Kotagede, dan ditutup dengan rapat koordinasi pada malam harinya. Sambil dihibur dengan alunan suara tembang legendaris milik Ebiet tentunya. “Kita putuskan reuni akbar 2020 akan dilaksanakan di Bukittinggi. FK USU Stambuk ’86 itu, masuk pertama ada 125 orang. Yang beruntung lulus itu ada 110 orang, sedangkan sisanya yang 15 orang ini yang kurang beruntung dan tidak dapat menyelesaikan studinya. Tetapi dalam hal karir mereka tidak kalah. Target saya 125 orang ini bisa hadir semua di Bukittinggi 2020 nanti,” sambung dr. Faisal.

Hari terakhir, peserta reuni beranjangsana ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, yang diteruskan dengan berbelanja oleh-oleh di Malioboro, sebelum kembali ke daerahnya masing-masing dengan membawa kenangan indah selama di Jogja.

“Dengan adanya reuni ini, ada dari alumni yang berencana untuk besanan dalam waktu dekat. Ada pula yang berencana menjalin kerjasama secara profesional. Pasca reuni, yang berat adalah bagaimana bisa move on. Berkaca dari pengalaman di Sibolga kemarin, move on dari reuni itu bukanlah perkara yang mudah. Tentunya tidak lupa kami menyampaikan terima kasih kepada pihak RSPAU dr.S Hardjolukito yang mendukung penuh acara rutin kami ini,” tutup dr. Faisal.