BANTUL – Kisruh pendaftaran penerimaan siswa baru (PPDB) tingkat sekolah menengah pertama (SMP) tahun lalu mendorong Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) merumuskan konsep zonasi baru. Kepala Disdikpora Bantul Didik Warsito memastikan, konsep zonasi ini berbeda dengan tahun ajaran 2017/2018. “Tapi ini belum selesai. Masih kami godok,” jelas Didik Jumat (23/3).

Salah satu letak perbedaan pada kuantitas. Didik menyebutkan, 90 persen kuota setiap sekolah dirancang khusus untuk calon siswa (casis) di area zonasi. Sisanya masing-masing lima persen untuk dua ceruk. Pertama untuk prestasi. Kedua, untuk jalur pertimbangan khusus.

Konsep ini nyaris berbanding terbalik dengan zonasi 2017/2018. Di mana rumusan lama ini mengalokasikan 30 persen kuota untuk casis di area zonasi. Lalu, 10 persen untuk casis pra sejahtera. Sementara 60 persen lainnya untuk jalur penerimaan melalui kualifikasi nilai.

Dengan konsep baru ini, Didik meyakini PPDB zonasi 2018/2019 tak akan menemui banyak masalah. “Dari keluarga pra sejahtera di sekitar sekolah sudah terkaver,” ucapnya.

Kendati begitu, Didik merasa masih mempertimbangkan konsep zonasi ini sulit diterapkan di sejumlah kecamatan. Contohnya, Sewon. Sebab, letak empat SMP negeri (SMPN) di kecamatan ini saling berdekatan. Begitu pula dengan Kecamatan Dlingo. Bedanya, letak dua SMPN di wilayah ini berdekatan dengan kecamatan lain. SMPN 1 Dlingo berdekatan dengan wilayah Piyungan. Adapun SMPN 2 Dlingo mepet dengan Kecamatan Imogiri.”Ini yang masih kami carikan formatnya,” ujarnya.

Didik menegaskan, penerapan zonasi ini mengharuskan berkas C1 casis mengikuti kedua orang tuanya. Ini untuk mengantisipasi casis ndompleng kartu keluarga salah satu kerabatnya demi mendaftar di sekolah tertentu. “Kalau orang tuanya Sewon, ya, harus Sewon,” tegasnya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 1 Dlingo Samirin menganggap penerapan sistem zonasi yang mulai diberlakukan pada tahun lalu membawa sejumlah dampak buruk. Yang paling mencolok adalah semangat siswa. Itu terlihat dari antusiasme belajar siswa kelas VII dan VIII.”Sangat berbeda,” katanya.

Kondisi ini dapat kian buruk andai kuota 90 persen untuk casis di area zonasi benar-benar diterapkan. Sepengetahuannya, casis yang tinggal di sekitar sekolah merasa dapat jaminan. “Dan semangat les siswa kelas VI dan kelas IX sekarang menurun,” kritiknya.

Kendati begitu, Samirin mengaku bakal mematuhi intruksi dari pemerintah terkait penerapan zonasi. (zam/din/mg1)