Mengalami keterbatasan ruang dan waktu tak membuat Fahrudin patah arang untuk berkarya. Semangatnya untuk lepas dari ketergantungan narkoba begitu tinggi. Membuat hasta karya terbukti tak hanya membuatnya bisa melupakan barang haram itu. Pria 33 tahun itu pun makin mahir membuat seni kriya. Bakat terpendamnya muncul. Keahlian dan keterampilannya terus meningkat. Buktinya, koran bekas bisa diolah menjadi sebuah karya seni bernilai tinggi. Miniatur sepeda motor. Sedikitnya ada tiga miniatur buata Fahrudin yang dipajang di ruang kreasi lapas. “Semuanya berbahan kertas koran. Ruji roda pakai batang lidi,” jelasnya kepada Radar Jogja belum lama ini.

Hukuman penjara selama delapan tahun bukanlah waktu singkat. Karena itu pria asal Pemalang, Jawa Tengah itu selalu menyibukkan diri dengan terus berkarya. Demi menghilangkan rasa penat di balik sel. Fahrudin telah menjalani separo dari masa hukumannya. “Dulu saya lebih sering melamun di sel. Hingga suatu ketika saya tergerak untuk mencari kesibukan,” ungkap pehobi otomotif itu.

Fahrudin tak ingin berlama-lama larut dengan keadaan. elihat tumpukan kertas koran bekas sebagai sebuah peluang. Dikolaborasikan dengan ide dan hobinya. Maka lahirlah miniatur motor. Cara membuatnya sedikit beda dari karya berbahan kertas koran lain. Fahrudin sengaja tak mengubah kertas koran menjadi bubur (pulp). Tapi merangkainya lembar demi lembar, ditempel menggunakan lem kayu. Tulisan berita di koran pun masih jelas terbaca.”Ide ini seolah terbesit begitu saja tanpa terencana,” tutur pria betubuh kurus itu.

Butuh waktu sekitar sebulan bagi Fahrudin untuk membuat sebuah miniatur motor. Memang cukup lama. Fahrudin memang hanya mengerjakannya di waktu senggang.

Fahrudin adalah penyuka Vespa. Karena itu dia sangat hapal detail kendaraan asal Italia itu. Untuk membuat miniaturnya pun dia tak merasa kesulitan. Beda dengan miniatur motor asal Jepang. Dia harus mempelajari detailnya lewat gambar atau foto. Setiap karyanya dibuat tanpa cetakan atau alat pres. Seluruhnya dibuat secara manual. Dari karyanya itu Fahrudin pun mampu meraup hasil, meski secara fisik terkungkung di sel tahanan. Miniatur motor karyanya dihargai Rp 750 ribu – Rp 1 juta per biji.

Melihat hal tersebut Fahrudin bertekad terus mengembangkan karyanya dengan merintis usaha kreatif di tempat kelahirannya. Tentu saja niat itu bisa terealisasi setelah dirinya bebas. “Saya optimistis. Apalagi di tempat asal saya jarang ada karya seni seperti ini,” ujar Fahrudin sambil menunjukkan sebuah produk karyanya.

Kalapas Narkotika Erwedi Supriyatno mendukung penuh kreativitas warga binaannya. Bahkan tahun lalu Erwedi menggelar pameran karya warga binaan di dalam lapas. Tak tanggung-tanggung, perupa Kartika Affandi pun didaulat untuk membuka acara itu.(yog/mg1)