JOGJA – Persoalan angkutan umum berbasis aplikasi seolah tak pernah ada ujung pangkalnya. Kali ini menerpa driver Go-Jek di wilayah Solo, Jawa Tengah. Manajemen Go-Jek di wilayah tersebut mengumumkan perubahan tarif minimum baru menjadi Rp 4 ribu. Dari sebelumnya Rp 8 ribu. Tak mau kebijakan tersebut menular ke Jogjakarta, driver Go-Jek DIJ yang tergabung dalam Paguyuban Driver Gojek Jogja (Pagodja) menggalang aksi lepas helm di Jalan Mangkubumi Jumat (23/3). Aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap driver Go-Jek di area Solo Raya.

Sekjen Pagodja Widi Asmara menilai, tarif minimum baru yang diberlakukan di wilayah Solo memberatkan para driver.

“Tarif sebelumnya itu kan sudah murah. Kalau diturunkan lagi berarti tak menghargai jerih payah driver,” katanya.

Widi mengklaim, tarif minimum Rp 8 ribu sepadan dengan jarak dan risiko driver. Lebih dari itu sebagai hak driver atas tanggung jawabnya mengantar konsumen. Serta menjamin keselamatan konsumen sampai tempat tujuan.

Aksi anggota Pagodja tak menghambat mereka untuk tetap beroperasi. Mereka hanya datang ke lokasi aksi untuk menyerahkan helm yang telah ditempeli kertas bertuliskan aspirasi, kemudian ditata berjajar di sepanjang Jalan Mangkubumi. Lalu kembali beroperasi.

Melalui aksi tersebut Widi berharap bisa menggugah manajemen Go-Jek di Solo agar mengembalikan tarif minimum seperti semula.

Novi NPK, salah seorang driver Go-Jek asal Solo yang turut dalam aksi, mengaku, pendapatannya turun drastis pasca kebijakan penurunan tarif minimum. “Sebelumnya ada pemberitahuan dari manajemen tentang penurunan tarif menjadi Rp 5 ribu. Tapi praktiknya Rp 4 ribu,” keluhnya.

Demi menjaga ritme kerja tetap optimal, pria 36 tahun itu berharap manajemen Go-Jek segera menganulir kebijakan tarif baru tersebut. (cr4/yog/mg1)