JOGJA – Halte Transjogja di area pedestrian menjadi perhatian Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIJ. Koordinator Bidang Penyelesaian Lapangan Nugroho Andriyanto menduga telah terjadi malfungsi halte angkutan umum murah tersebut. Keberadaan halte di atas trotoar dinilai mengganggu pejalan kaki. Hal itu menyebabkan fungsi trotoar semakin tidak ideal. Apalagi sejauh ini trotoar juga disalahgunakan sebagai lapak pedagang kaki lima (PKL) dan tempat parkir sepeda motor.

“Makanya kami ingin tanyakan solusi penataan halte agar tidak mengganggu pejalan kaki,” ungkap Nugroho usai bertemu petinggi UPT Transjogja Jumat (23/3).

Menurut Nugroho, lebar trotoar di Jogjakarta terlalu sempit. Sementara lebar standar halte Transjogja 1,5 meter. Hal inilah yang menyebabkan keberadaan halte tersebut mengganggu pejalan kaki. Kendati demikian, tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan halte Transjogja yang mudah dijangkau sangat dibutuhkan masyarakat. “Dilematis memang. Tapi, lihat saja itikad baik manajemen UPT Transjogja. Mereka punya upaya untuk mengatasinya,” klaim Nugroho.

Kepala UPT Transjogja Sumariyoto mengklaim, halte di atas trotoar bersifat legal. Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. “Diperbolehkan karena memiliki fungsi sebagai tempat menaikkan dan menurunkan penumpang. Ya memang harus di situ (trotoar, Red),” tegasnya.

Atas dasar regulasi itulah 90 persen dari total 112 halte Transjogja didirikan di atas trotoar. Baik halte permanen maupun non-permanen. Hanya segelintir halte yang tidak di atas trotoar. Seperti di Terminal Condongcatur, Jombor, Gamping, Giwangan, Ngabean dan Dongkelan.

Menentukan lokasi halte Transjogja, lanjut Sumariyoto, bukan urusan mudah. Ada beberapa kendala yang dialami. Contohnya, halte di depan SMPN 5 Jogja. Di tempat ini trotoar tertutup banyaknya penumpang.

Sumariyoto mengatakan, UPT Transjogja telah berupaya memberikan akses bagi pejalan kaki di belakang halte. Namun hal itu tidak bisa dilakukan karena terbentur bangunan heritage. Makanya tak ada akses bagi pejalan kaki di trotoar tersebut. Halte Transjogja di depan Rumah Sakit Bethesda juga bermasalah. Di sini halte tertutup lapak-lapak PKL.

Untuk mengatasi berbagai persoalan terkait halte Transjogja, Sumariyoto berjanji melakukan redesain halte yang lebih ramah bagi pejalan kaki. Halte baru akan diperluas dan lebih terbuka. Dengan begitu pejalan kaki tetap bisa melintasi trotoar melewati halte tersebut, meski sedikit menanjak. (bhn/yog/mg1)