BANTUL – Jangan pernah menganggap remeh penyakit hipertensi. Sebab, salah satu penyakit tidak menular ini bisa memicu terganggunya fungsi empat organ tubuh vital. Yaitu, otak, ginjal, jantung dan hati. Saking bahayanya, penyakit yang juga disebut dengan tekanan darah tinggi ini bisa menyebabkan kematian.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) dan Kesehatan Jiwa (Keswa) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul dr Karmijono Pontjow mengungkapkan, terganggunya kerja empat organ vital ini hanya karena satu faktor. Yaitu, tekanan darah begitu tinggi.

Di otak, misalnya. Tingginya tekanan darah bisa menyebabkan pembuluh darah pecah. Dengan kata lain, menyebabkan stroke pendarahan. Dalam kadar yang paling ringan, tingginya tekanan di pembuluh ini dapat memicu turbulensi darah. “Kondisi ini menyebabkan pembuluh darah tersumbat sehingga mengakibatkan stroke kelumpuhan,” jelas Karmijono di ruang kerjanya Jumat (23/3).

Lalu bagaimana di ginjal? Menurutnya, tingginya tekanan darah dapat berakibat terganggunya filtrasi pada ginjal. Risikonya, ginjal mengalami pembengkakan. Setali tiga uang, jantung. Seperti organ lainnya, jantung butuh suplai makanan. Nah, suplai makanan jantung ini terganggu bila pembuluh darah mengalami penyempitan. Ujung-ujungnya, muncul penyakit jantung koroner. “Bila bendungan terlalu tinggi bisa picu kerusakan hati,” lanjutnya.

Merujuk riset kesehatan daerah 2013, penderita hipertensi di Kabupaten Bantul mencapai 27 persen. Menurutnya, tren penderita hipertensi cenderung mengalami kenaikan. Sebab, mengacu survei indikator kesehatan nasional pada 2016, jumlahnya mencapai 28 persen. “Usia penderitanya 15 tahun ke atas,” tuturnya.

Karmijono menengarai ada sejumlah faktor pemicu kenaikan ini. Di antaranya, pola hidup. Gaya hidup masyarakat belakangan ini jauh berbeda dengan era tahun 70 atau 80-an. Contohnya, makanan. Kecenderungan masyarakat saat ini memilih makanan cepat saji yang notabene mengandung banyak penyedap rasa. Sementara masyarakat dua atau tiga dekade lalu lebih memilih makanan sehat. “Sekarang juga jarang gerak. Kemana-mana selalu naik motor. Kalau dulu sering jalan kaki,” ungkapnya.

Faktor lain adalah tingkat stres. Menurutnya, kesederhanaan masyarakat era 70 maupun 80-an membawa ketentraman hati sekaligus pikiran. Adapun masyarakat belakangan ini cenderung konsumtif tanpa banyak mempertimbangkan aspek finansial. Akibatnya, memicu stres.”Sekarang beli barang dengan kredit. Ketika mengangsur bingung karena pendapatannya tidak mencukupi. Akhirnya stres,” paparnya.

Disebutkan, ada beberapa tanda penyakit hipertensi. Di antaranya, kepala pusing dan rasa sakit pada bagian tengkuk. “Termasuk gliyur saat berjalan,” tambahnya.

Oleh karena itu, Karmijono mengajak kembali ke pola hidup sehat. Sekaligus menghindari stres. Kendati begitu, Karmijono tetap menyarankan, warga melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Minimal setahun sekali. Itu untuk mencegah munculnya berbagai jenis penyakit PTM sejak dini.”Juga rajin beraktivitas. Minimal 30 menit sehari. Serta harus pandai mengelola stres,” pesannya. (zam/din/mg1)