KULONPROGO – Pengalihan hak atas tanah wakaf terdampak bandara akan segera dilakukan. Akuisisi dan relokasi tanah wakaf dinilai sudah seimbang dan layak.

Demikian disampaikan Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat, Sekretariat Daerah Kulonprogo Arief Prastowo Kamis (23/3). “Kami telah melakukan verifikasi tukar guling tanah wakaf tersebut,” kata Arief.

Verifikasi dilakukan bersama Kemenag Kulonprogo, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Pemdes dan nadzir (pengelola wakaf). Hasilnya, penggantinya cukup seimbang dari sisi penilaian maupun kemanfaatan.

Selanjutnya Kemenag akan menerbitkan izin rekomendasi pelepasan tanah. Pelepasan hak atas tanah tersebut diagendakan hari ini di BPN Kulonprogo.

Tanah wakaf yang terkena bandara ada lima bidang. Berada di Desa Glagah, Palihan, dan Kebonrejo.

Empat bidang berupa masjid atau musala. Masjid di Pedukuhan Kepek akan dipindah ke relokasi setempat. Musala di Pedukuhan Bapangan direlokasi ke kompleks Relokasi Janten. Masjid di Pedukuhan Kragon II dipindah ke Relokasi Palihan.

“Satu bidang lain berupa lahan calon masjid di Munggangan. Akan direlokasi ke lahan milik pribadi di Mlangsen,” kata Arief.

Ada tanah wakaf yang relokasinya jauh dari lingkungan terdahulu dan tidak masalah. Nilai manfaat lebih diutamakan yakni manfaat sebagai tempat ibadah.

Jika dipaksakan ada di kompleks relokasi, lahannya tidak mencukupi. Dikhawatirkan pemanfaatannya sebagai tempat ibadah tidak maksimal.

“Jauh sedikit tidak masalah. Yang penting tanah wakaf bermanfaat untuk tempat ibadah. Semua atas kesepakatan bersama,” kata Arief.

Kepala Kanwil Kemenag Kulonprogo Nurudin mengatakan pihaknya sudah meninjau lokasi tanah wakaf. Hasil relokasi tanah wakaf memiliki nilai manfaat lebih besar.

Tidak ada masalah dalam proses tukar guling dan relokasi tanah wakaf. “Kami akan segera memberikan rekomendasi bersama Badan Wakaf Indonesia (BWI) DIJ,” kata Nurudin. (tom/iwa/mg1)