RADARJOGJA.CO.ID – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI, Mohamad Nasir mendorong kepada seluruh perguruan tinggi di tanah air untuk memanfaatkan teknologi informasi (TI). Pemanfaatan teknologi dengan maksimal tersebut diharapkan dapat meningkatkan mutu dan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada di lingkungan kampus dan lulusannya.

“Ke depan biasa jadi tidak ada lagi kuliah tatap muka. Perkuliahan bisa dilakukan dengan teknologi informasi, kapan pun di mana pun berada,” kata Nasir saat memberi kuliah umum bertema Kebijakan Nasional Pendidikan Tinggi Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0 di kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja, Kamis (22/3/2018).

Dengan pemanfaatan teknologi maka pendidikan tidak lagi tertinggal dengan perguruan tinggi luar negeri. Apalagi, sektor pendidikan merupakan salah satu bidang yang masuk dalam pasar bebas. “Lulusan perguruan tinggi Indonesia harus berkualitas dan saya yakin lulusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dapat bersaing dengan perguruan tinggi asing,” tandas Nasir.

Apabila ada perguruan tinggi tidak mau berinovasi dan memperbaiki manajemen maka dapat dipastikan akan tertinggal. Nasir memaparkan, pada tahun 2017 lalu Kemenristekdikti telah menutup sebanyak 241 perguruan tinggi. Penyebabnya mulai dari kecurangan hingga problematika manajemen.

“Yang nakal, yang kurang baik, yang curang seperti menjual ijazah tanpa melalui proses pembelajaran, harus diselesaikan,” tandasnya.

Agar perguruan tinggi dapat keluar dari krisisnya tersebut pihaknya telah mencarikan solusi jitu seperti bergabung dengan PT lain atau menutup diri. “Mari bersama membangun Indonesia. Ke depan agar bisa bersaing dengan perguruan tinggi asing. Dari lokal untuk dunia,” ajak Nasir.

Dalam kesempatan itu, ia menyinggung revolusi Industri. Menurutnya, dinamika riset di kalangan akademisi Indonesia mengalami peningkatan yang lebih baik. Pada 2017 jumlah riset Indonesia mengalami kenaikan yang pesat dari tahun-tahun sebelumnya bahkan mengalahkan Taiwan, hal ini harus terus dilakukan peningkatan. Riset harus dimulai dari dasar, terapan, hingga inovasi.

“Hasil penelitian yang bisa langsung diterapkan di industri maka akan kami berikan reward khusus,” paparnya. (cr3/mar)