SLEMAN – Pabrik air minum dalam kemasan (AMDK) Evita di Pakembinangun, Pakem, Sleman digerebek petugas Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BB POM) DIJ bersama Korwas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Ditreskrimsus Polda DIJ Kamis (22/3). Penggerebekan dilakukan bukan karena produk PT Tirta Lancar Sejahtera itu mengandung bahan berbahaya. Melainkan karena izin edarnya yang telah kedaluwarsa sejak 2016. “Kalau kandungan air mineralnya aman,” ungkap Kepala BB POM DIJ Sandra MP Lintih di sela penggerebekan tempat produksi yang sekaligus difungsikan sebagai gudang AMDK Evita.

Selain menyita 42.713 AMDK botol dan gelas senilai Rp 16 juta, BB POM melarang PT Tirta Lancar Sejahtera melanjutkan produksi selama proses penyidikan. Sandra juga meminta produsen Evita menarik produk yang telah terdistribusi di agen-agen.

Menurut Sandra, upaya represif dilakukan sebagai bentuk peringatan terakhir. Sebab, sejak izin edar produk Evita berakhir pihaknya telah memberikan peringatan kepada pengelola untuk memperpanjang. Namun, peringatan tersebut tak diindahkan.

Izin edar produk makanan dan minuman diatur dalam Undang-Undang (UU) No 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Diperkuat dengan Peraturan Kepala BPOM RI No 12 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Pangan Olahan. Pelanggaran terhadap regulasi tersebut diancam pidana maksimal dua tahun penjara dan denda paling banyak Rp 4 miliar.

Kanit II Subdit IV Ditreskrimsus Polda DIJ Kompol Eko Basunando memastikan hanya izin edar produk AMDK Evita yang bermasalah. “Izin operasional pabriknya sudah sesuai prosedur,” katanya.

Eko menegaskan, izin edar produk pangan sangat penting guna menjamin keamanan konsumen.

Salah seorang warga yang berdomisili di sekitar pabrik membenarkan jika dalam dua tahun terakhir PT Tirta Lancar Sejahtera terus memproduksi AMDK Evita. “Saya tidak tahu kalau ternyata izin edarnya kedaluwarsa,” ungkap pria yang enggan dikorankan identitasnya.

Sementara itu, pengelola PT Tirta Lancar Sejahtera enggan memberikan komentar terkait penyitaan produk dan izin edar yang kedaluwarsa. Pintu gerbang pabrik tertutup rapat sejak petugas BB POM DIJ dan polisi melalukan penyitaan produk. Penjaga pabrik bahkan sempat menghalangi-halangi upaya peliputan oleh awak media. (dwi/yog/mg1)