MAAHIR adalah anggota korps sukarela (KSR), salah satu unit Palang Merah Indonesia (PMI). Perjalanannya dimulai di kantor PMI Jakarta Selatan pada Minggu (11/3) lalu. Perjalanan sampai Jogjakarta ditempuhnya selama tujuh hari. “Perjalanan ini bukan hanya tentang ekspedisi. Tapi upaya mencerdaskan negeri lewat kegiatan literasi,” ujar Maahir kepada Radar Jogja saat singgah di kantor PMI DIJ, Gamping, Sleman Kamis (22/3). Selama lima hari di Jogjakarta sejak Minggu (18/3) Maahir mengaku telah bersilaturahmi di seluruh kantor PMI se-DIJ. Mulai Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, Kota Jogja, dan DIJ. Dia juga mengunjungi pengurus Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIJ. “Selama di Jogjakarta saya juga banyak mengikuti kegiatan bersama teman-teman di Taman Bacaan Mata Aksara Kaliurang,” ujarnya.

Perjalanan sejauh sekitar 500 kilometer dari Jakarta ke Jogjakarta tak selalu ditempuhnya lewat jalan raya. Maahir kerap mampir ke desa-desa terpencil untuk mengajarkan beberapa hal bagi warga setempat. Terutama tentang kepalangmerahan.

Sejauh ini baru Tasikmalaya, Jawa Barat yang membuatnya berkesan. Karena ketika itu dia bertemu dengan sesam relawan PMI yang juga aktivis literasi. “Mereka menggunakan semangat literasi untuk membangun daerah,” ungkap pria 23 tahun itu.

Dalam setiap persinggahannya, Maahir selalu mengedukasi masyarakat akan pentingnya PMI. Hal itu dilakukannya demi membuka mata masyarakat agar tak segan berkontribusi membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan rakyat. Salah satunya dengan bergabung sebagai relawan PMI seperti dirinya.

Bersepeda dipilihnya karena ramah lingkungan. Nol emisi dan tanpa subsidi. “Dengan bersepeda saya merasa lebih leluasa menjelajah pelosok negeri,” katanya.

Sebagai petualang, Maahir tak lupa membawa perlengkapan dan logistik layaknya pendaki gunung. Selain perkakas sepeda, dia membawa tenda yang akan dipakainya untuk bermalam. Sepedanya pun tak sembarangan. Maahir memilih sepeda yang telah disesuaikan dengan geometri tubuhnya. “Karena masing-masing tubuh manusia memiliki geometri sendiri. Jadi tidak bisa sembarangan karena ukuran sepeda dan badan harus sesuai,” jelasnya.

Teknik bersepeda tak kalah penting. “Kadang orang melihat bersepeda sepertinya gampang, tapi ternyata sulit. Karena kita harus tahan, konsisten, dan tabah samai akhir,” lanjut Maahir. Sejauh ini kondisi sepedanya masih oke. Ban roda tidak mengalami masalah. Maahir hanya rutin mengecek tekanan angin untuk memastikan keamanannya saat dikendarai.

Maahir menargetkan bisa menyelesaikan ekspedisinya selama dua tahun. Hingga 11 Maret 2020. Bukan hanya bersepeda, Maahir juga bertekad untuk menaklukkan tujuh gunung tertinggi di Jawa Tengah. “Supaya perjalanan saya semakin seru,” ujarnya. (yog/mg1)