BANTUL – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan (Kemenristekdikti) sudah menutup sebanyak 241 perguruan tinggi (PT). Penyebabnya mulai dari kecurangan hingga problematika manajemen.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, semua perguruan tinggi akan dilakukan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian.

“Yang nakal, yang kurang baik, yang curang seperti menjual ijazah tanpa melalui proses pembelajaran, harus diselesaikan,” ujarnya saat memberi kuliah umum “Kebijakan Nasional Pendidikan Tinggi Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0” di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Kampus 4, Kamis (22/3).

Solusi yang ditawarkan pemerintah adalah bergabung dengan PT lain atau menutup diri. “Mari bersama membangun Indonesia. Ke depan agar bisa bersaing dengan perguruan tinggi asing. Dari lokal untuk dunia,” ajak Nasir.

Terkait dengan revolusi Industri, Nasir menerangkan, dinamika riset di kalangan akademisi Indonesia. Pada 2017 jumlah riset Indonesia mengalami kenaikan yang pesat dari tahun-tahun sebelumnya bahkan mengalahkan Taiwan, hal ini harus terus dilakukan peningkatan. Riset harus dimulai dari dasar, terapan, hingga inovasi. Dia pun menyayangkan banyak inovasi yang tidak bisa diterapkan di Indonesia. Sehingga menurutnya riset itu sebaiknya harus berdasarkan kebutuhan. (cr3/ila/mg1)