Berpegang pada asas pengembangan pertanian berbasis kearifan lokal, Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berupaya memaksimalkan teknologi budidaya tanaman dengan memanfaatkan bioteknologi berkelanjutan. Selain itu, pengelolaan hasil panen dan pasca panen sudah menggunakan teknologi terkini dan ramah lingkungan.

“Di sini tidak diajarkan menggunakan pertanian konvensional, namun melihat juga tata kawasan dengan menyesuaikan kondisi berdasarkan kearifan lokal,” ungkap Kepala Prodi Agroteknologi UMY Innaka Ageng Rineksane kepada Radar Kampus (13/3).

Khusus untuk Prodi Agroteknologi sudah tersedia lahan untuk mahasiswa praktik bercocok tanam. Lahan terbagi dalam beberapa lokasi. Beberapa lahan di sekeliling kampus UMY sudah mencapai 8.000 meter persegi. Ada pula lahan yang baru dibelikan dengan luas hampir sama. Selain itu, Agroteknologi UMY juga punya lahan wakaf di daerah Kranggan seluas 8.000 meter persegi. “Kami juga memiliki green house yang dilengkapi dengan lab,” tutur Innaka.

Berbagai penelitian dilakukan prodi ini. Salah satunya terdapat tanaman pangan seperti padi, singkong yang sudah diidentifikasi di DIJ. Baik dari sisi budidaya, pasca panen, dan pelaksanaannya berada di lahan dekat UMY, beberapa ada di daerah Gunungkidul. “Mahasiswa menanam sendiri tanaman-tanaman itu di lahan yang sudah disediakan. Semacam praktikum lapangan,” katanya.

Guna menunjang hal itu, terdapat mata kuliah Project Manajemen Agribisnis. Mahasiswa sudah dilatih cara mengatur usaha pertanian dengan sedemikian rupa. Biasanya, para mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok serta menghitung sendiri kebutuhannya, dan memperhitungkan hasilnya. Pencapaiannya harus memiliki untung. Dalam hal ini mahasiswa melakukan sendiri hingga panen.

Agroteknologi ini akan menjadi prodi yang senantiasa dibutuhkan selama manusia masih ada. Tidak hanya belajar teknologi produksi. Agroteknologi juga mengajarkan cara memproduksi tanaman agar berproduksi maksimal dengan memanfaatkan bioteknologi.

“Agroteknologi akan senantiasa diperlukan baik ditingkat lokal, nasional, maupun internasional,” ungkap Innaka. Semakin bertambahnya jumlah penduduk dengan beraneka ragam pangan, prospek prodi agroteknologi untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia.

Beberapa inovasi telah dikembangkan oleh Prodi Agroteknologi UMY. Baik dosen maupun mahasiswa sudah menghasilkan karya berdasarkan kurikulum perguruan tinggi. Penelitian yang sudah dihasilkan oleh mahasiswa selama bertahun-tahun selalu mendapatkan hibah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Salah satu penelitian tentang sebuah alat khusus untuk hidroponik yang mengambil energi tenaga surya. Pada 2016 lalu menjadi juara dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). “Saat itu melakukan penelitian tentang pemanfaatan feses sebagai pupuk organik,” ungkap Innaka.

Tujuh mahasiswa Agroteknologi juga mendapat hibah dari Indofood Research Nugraha (IRN) dan menjadi mahasiswa terbanyak yang mendapat dari kampus yang sama. Kala itu, penelitiannya mengangkat tema pemanfaatan produk pangan nonberas namun lokal dari tingkat budidaya, ketika panen dan pasca panen.

Dosen Agroteknologi juga tak ketinggalan, bahkan sudah pernah mendapatkan paten dari Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Judul penelitiannya “Peningkatan Ketahanan Kekeringan Tanaman Padi dengan Aplikasi Pupuk Hayati Berbahan Aktif Rizobakteri Isolat Merapi”.

Penelitian kedua mengenai pemanfaatan pewarna alami kromosom pada inti sel tanaman. “Sudah mendapat paten dari Ditjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham,”tegasnya. Tak hanya itu, Agroteknologi juga berkolaborasi dengan Fakultas Teknik UMY untuk melakukan penelitian terkait pendeteksian kematangan buah tropis (lokal) dengan alat semacam smartphone menggunakan teknologi terbaru.

Segala kegiatan ini tentu tidak pernah meninggalkan identitas Agroteknologi UMY yang bernaung dalam salah satu universitas Islam. “Jadi mahasiswa dibekali dengan nilai-nilai keislaman,” tegasnya. Sesuai visi UMY menjadi unggul dan Islami serta reputasi universitas tingkat dunia, maka Agroteknologi UMY sudah berwawasan internasional.

Meski sempat mengalami penurunan, kini peminatnya terus meningkat setelah Agroteknologi UMY terakreditasi A tahun 2014. Rasio pendaftar di atas 1.000-2.000 orang, padahal hanya mengambil 500 mahasiswa. (cr2/laz/mg1)