MAGELANG–Luasan Kota Magelang hanya 18 Km2, tetapi setahun mendatang satu pasar lagi akan dibangun. Tidak tanggung-tanggung, pasar baru yang dinamakan Pasar Induk tersebut bakal lebih besar dari Pasar Rejowinangun. Karena akan menempati area seluas 5 hektare di Jalan Soekarno- Hatta Magelang, dekat terminal.

“Pasar induk ini guna menampung berbagai jenis komoditas, terutama sayuran, buah-buahan, daging, perikanan, dan lainnya. Saya harap DED (detail enginering design) bisa jadi tahun ini,” kata Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito usai membuka Musrenbang RKPD 2019 di Pendopo Pengabdian, Rabu (21/3).

Sigit menjelaskan, pembuatan pasar induk ini tidak lepas dari keprihatinannya pada kondisi Pasar Gotong Royong saat ini. Dia merasa gerah melihat kondisi pasar di bawah Gunung Tidar ini. “Saya sumuk melihatnya. Baunya ke mana-mana dan sudah tidak sehat,” ujarnya.

Keinginan ini pun disambut positif Ketua DPRD Kota Magelang Budi Prayitno. Ia menyebutkan, memang rencana pembangunan pasar induk ini merupakan konsep lama. Udik, panggilan akrabnya, bahkan juga sudah mengetahui rencana lokasi pembangunan. Termasuk mengetahui, kalau tanah kosong calon lokasi pasar induk itu kini banyak ditempati oleh bangunan liar yang dihuni warga. “Kalau tidak salah ada sekitar 25 KK. Bagi warga yang menempati lahan itu, bisa dipindah ke Rusunawa yang sudah ada,” jelasnya.

Menurutnya, pasar induk tidak akan tumpang tindih dengan Pasar Rejowinangun yang sudah dibangun megah. Sebab, peruntukan pasar induk akan berbeda dari Pasar Rejowinangun.”Pasar Rejowinangun itu seperti pasar kelontong yang semua barang tersedia. Kalau di pasar induk nanti untuk menampung komoditas khusus, seperti sayuran, aneka bunga, buah-buahan, perikanan, peternakan, daging, dan lainnya,” urainya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Joko Suparno mengutarakan, pembangunan pasar induk memang sudah masuk dalam perencanaan. Saat ini prosesnya sudah dimulai dari DED, lalu dilanjut pembebasan beberapa tanah, dan pembangunan fisik. “Perkiraan tahun 2019-2020 sudah bisa dibangun. Dana yang dibutuhkan sekitar Rp 200 miliar,” tandas Joko Suparno. (dem/din/mg1)