PURWOREJO – Akses jalan kabupaten yang terpenggal akibat terjadi longsor akhir tahun lalu dan menjadi penghubung Desa Kaliharjo-Desa Hulosobo di Kecamatan Kaligesing mulai ditangani masyarakat. Lebaran 2018 menjadi pertimbangan khusus, sehingga memaksa mereka melangkah mendahului Pemkab Purworejo.

Selain menjadi akses penghubung antardesa, jalan itu juga menjadi penghubung utama siswa SMPN 24 Purworejo yang berada di Desa Kaliharjo untuk mobilitas. Akibat adanya longsor yang menjadikan seluruh badan jalan hilang, hanya kendaraan roda dua yang bisa melintas. Itu pun karena adanya jembatan darurat dari bambu yang dibuat warga.

“Hasil koordinasi kami dengan warga Desa Hulosobo dan SMPN 24 menyepakati kalau kita akan menguruk jalan yang longsor dengan penahan karung berisi tanah,” kata Plt Sekretaris Desa Kaliharjo Siswadi Selasa (20/3).

Diungkapkan, inisiatif utama penanganan darurat memang dari warga Hulosobo, di mana mereka sangat membutuhkan sarana tersebut. Selama ini pemilik kendaraan roda empat di wilayah Hulosobo harus memutar melalui Desa Somongari apabila ingin ke pusat kota atau pusat kecamatan.

“Sebenarnya ada jalan kampung di belakang SMP, tapi tidak bisa untuk simpangan dua mobil dari arah berlawanan,” jelas Siswadi. Kondisi jalan yang longsor sendiri relatif berat karena panjang jalan terputus hampir sepanjang 25 meter dengan kedalaman berkisar antara
6-8 meter.

Penanganan yang dilakukan sudah dikoordinasikan dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR) Purworejo yang mana ada kepastian jika pembuatan jalan darurat oleh warga tidak akan mempengaruhi pembangunan kembali yang akan dilakukan pemkab.

“Sebelum melangkah seperti ini, kami sudah koordinasi dengan DPU di mana pemerintah tidak bisa membangun secepat harapan warga. Paling banter penanganan baru akan dilakukan bulan Agustus yang artinya setelah Lebaran. Padahal kami sangat membutuhkan jalan ini dalam Lebaran nanti,” jelas Siswadi.

Adapun langkah ketiga pihak yang dilakukan untuk membuat jalan darurat itu adalah menahan tanah menggunakan karung. Tanah uruk diambilkan dari beberapa warga yang bersedia memberikan bantuan. Pihaknya juga menolak penggunaan alat berat karena dikhawatirkan pemadatan tanah kurang maksimal.

“Dari BPBD sebenarnya sudah menawarkan penggunaan backhoe tapi kami tolak, karena kami akan lakukan kerja bakti sehingga pemadatan tanah bisa maksimal. Memang kalau diuruk seketika pakai alat berat, akan lebih cepat, tapi kami menilai hasilnya tidak bisa maksimal,”
tandasnya.

Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo Sigit Ahmad Basuki mengungkapkan, penanganan jalan itu menjadi ranah dari DPU PR Kabupaten Purworejo. Pihaknya tidak bisa melakukan penanganan kebencanaan seperti pada umumnya. “Kami melakukan penanganan darurat jika fasiltias yang ada itu bukan milik pemkab. Sementara jalan putus di Kaliharjo itu menjadi ranahnya DPU,” katanya. (udi/laz/mg1)