KULONPROGO – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kulonprogo telah mengumpulkan lima Kepala Desa terdampak bandara yang telah direlokasi. Pendataan itu untuk kebutuhan penentuan jumlah kotak suara dan lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS) dalam Pemilu 2019.

Lima Desa terdampak NYIA itu Palihan, Glagah, Janten, Kebonrejo, serta Kedundang. Selain kepala desa KPU juga melibatkan Camat Temon, Perwakilan Disdukcapil Kulonprogo, PPS desa terkait dan PPK Temon untuk melihat kondisi riil warga terdampak bandara yang telah direlokasi.

“Kami kumpulkan untuk membahas perubahan TPS. Karena kami ingin mengumpulkan kondisi riil kendati telah melakukan pendataan di atas kertas,” ungkap Komisioner KPUD Kulonprogo Marwanto Selasa (20/3).

Penentuan TPS yang saat ini telah berubah akibat relokasi bandara perlu dilakukan. Sebab warga terdampak yang telah menyebar di berbagai tempat sedang diusahakan untuk mendapatkan hak pilihnya. Yakni dengan pembuatan TPS baru atau penggabungan TPS.

“Termasuk Relokasi Magersari di Desa Kedundang yang dihuni warga dari berbagai desa terdampak. Apakah itu akan menggunakan TPS baru atau tidak? Itu kan perlu didiskusikan,” kata Marwanto.

Kepala Desa Palihan Kalisa Paraharyana mengatakan sedikitnya 200 kepala keluarga (KK) yang mengalami perpindahan tempat tinggal. Hal tersebut bakal memengaruhi jumlah TPS di Palihan.

“Dulu ada lima TPS. Namun karena ada peraturan baru maksimal 300 pemilih per TPS bakal terjadi perbedaan. Apalagi ratusan KK pindah ke desa Janten dan lainnya,” katanya. (tom/iwa/mg1)