KULONPROGO – Agustinus Bagus Sri Raharjo, 47, warga Sideman, Desa Giripeni, Kecamatan Wates, sukses menangkarkan burung merpati kelas dunia. Salah satu burung merpatinya, namanya Satria, pernah ditawar Rp 300 juta.

“Bahkan anaknya sekarang saya jual Rp 5 juta per ekor. Satria sudah menjadi klan atau silsilah sendiri,” ujar Bagus.

Dia benar-benar serius menggeluti dunia merpati. Indukan merpati dia datangkan dari Inggris, Belanda, dan Belgia.

Satria merupakan maskot andalan Bagus. Merpati pos tersebut menjadi langganan juara nasional.

Saat ini di Sunrise, begitu Bagus menamakan penangkarannya terdapat 260 merpati. Dipisahkan rapi ke dalam kandang khusus.

“Ada kandang penangkaran, kandang pembesaran dan kandang latih. Indukannya 160 ekor, semua produktif menghasilkan anakan,” kata Bagus.

Burung merpati Bagus diburu kolektor karena memiliki klan atau silsilah yang jelas. Salah satunya klan Satria sang juara dalam setiap even nasional bahkan internasional. Dalam sebulan Bagus bisa menjual 20 ekor anak merpati.

Harga anakan burung merpati Sunrise antara Rp 1 juta hingga Rp 5 juta per ekor. Pembelinya dari Jogjakarta, Jateng, Jabar, Jatim, Jakarta, Bengkulu, Papua, dan Kalimantan.

“Selain Satria, saya juga menangkarkan burung yang baru-baru ini meraih juara kedua kejuaraan internasional di Thailand Januari 2018,” ujar alumnus Fakultas Teknik Mesin UGM.

Menjaga silsilah merpati juara tidak mudah. Setiap breeder (penangkar) biasanya akan mengeluarkan silsilah. Kalau di luar negeri harus ada suratnya. Menjelaskan sampai level kelima indukannya.

“Yang menangani di sini ada lima orang, jadi pencatatannya cukup rapi,” kata Bagus.

Penghobi merpati Widodo tertarik membeli anakan milik Bagus karena kualitasnya baik. Dia berencana membeli anakan merpati seharga Rp 2 juta.

“Saya suka merpati sejak kecil. Tersiar kabar jika di sini ada merpati berkualitas. Setelah lihat-lihat jadi ingin membeli,” kata Widodo. (tom/iwa/mg1)