MUNGKID – Memasak bagi sebagian orang dianggap hal sulit. Tetapi itu tidak berlaku bagi mereka yang bergabung dalam Specook yang merupakan kependekan dari specialist of baking & cooking. Ini karena mereka mempunyai tagline, “Pokok’e Bisa”.

Jargon ini sangat tergambar dalam kegiatan Ngemil #1 Baking Demo & Mentoring Bisnis yang diselenggarakan di Balkondes Kembang Limus, Borobudur, kemarin. Puluhan ibu-ibu dan remaja bergabung dalam kegiatan bikin kue dan pengembangan bisnisnya. Bertindak sebagai narasumber adalah Budi Moertopo, owner Vas Catering dan Tri Murwanto.

Alhamdulillah Specook mendapat angin baik dari Dinas Perindag dan UMKM Pemkab Magelang. Mereka tidak hanya suport dalam kegiatan latihan bareng seperti ini, tetapi juga soal pembuatan perizinan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), izin laik sehat dan izin Halal MUI,” kata Humas Specook, Sri Lestari Mulyani, kemarin.

Perempuan yang akrab disapa Neneng mengaku “latihan bareng” berangkat dari keluhan para pelaku UMKM di Magelang yang mengeluhkan kecilnya pendapatan mereka. Karena para pelaku kuliner itu hanya mampu menguasai satu bidang makanan olahan, sehingga kemudian diputuskan untuk membuat komunitas Specook.

“Kami dengan beberapa teman, di antaranya Mbak Sri Sejati dan Mbak Ratih sepakat membuat satu komunitas yang bisa saling berbagi ilmu soal kuliner. Sehingga setiap anggota yang mempunyai kemauan bisa belajar untuk menambah varian jualan mereka,” tuturnya.

Antusias anggota untuk mengikuti latihan bareng cukup besar. Ditunjukkan dengan selalu penuh kelas yang diselenggarakan. Latihan dibuka untuk umum, seperti Ngemil#1 tersebut. “Beberapa materi sudah pernah kita berikan dalam latihan bareng diantaranya pembuatan roti manis aneka toping, donat mini dan roti pisang ekonomis,” ujarnya.

Salah satu peserta kegiatan Yayuk S, 40, asal Mungkid mengaku senang tergabung dalam latihan bareng karena biaya yang dikeluarkan tidak begitu banyak. “Sudah bayarnya murah, karena biaya pendaftaran hanya untuk pengganti bahan. Kami juga dapat ilmu dan banyak teman,” ungkap perempuan berjilbab itu.

Neneng membenarkan pihaknya hanya menarik bayaran sebagai pengganti bahan dan konsumsi. Karena mentor atau pengajar latihan berasal dari anggota grup sendiri yg mempunyai keinginan untuk berbagin ilmu. Tak pelak, komunitas yang berdiri sejak 28 Agustus 2017 itu saat ini sudah memiliki anggota 119 orang.

“Di dalam grup kami biasa untuk berbagi pengalaman, berbagi resep bahkan berbagi orderan. Harapannya, grup kami bisa memberikan warna dan aroma yang harum di keluarga masing-masing anggota dan masyarakat, seperti layaknya aroma spekuk (aroma rempah asli Indonesia) yang menggoda,” tandas Neneng. (dem/laz/mg1)