RUSAK: Seorang pedagang menunjukkan titik longsor di atas bukit di Gua Selarong. (ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA)

BANTUL – Kondisi objek wisata (obwis) Gua Selarong kini memprihatinkan. Itu salah satunya akibat siklon tropis Cempaka. Setidaknya ada enam titik kerusakan infrastruktur akibat fenomena alam yang menghantam wilayah Kabupaten Bantul akhir tahun lalu itu.

Tujiyanto, 45, seorang warga setempat menyebutkan, kerusakan tersebar di beberapa titik. Kadar kerusakan bervariatif. Mulai ringan, sedang hingga berat. Kerusakan terberat di antaranya berupa jebolnya bangket saluran drainase yang terletak di bawah tangga masuk. “Yang bangket drainase sudah diperbaiki,” jelas Tuji, sapaannya saat ditemui di Kompleks obwis Gua Selarong Selasa (20/3).

Kendati sudah ada penanganan, warga Dusun Kembang Putihan, Guwasari, Pajangan ini melihat, perbaikan masih belum optimal. Beberapa kerusakan masih terbengkalai. Salah satunya akses jalan menuju bangsal yang terletak di puncak Bukit Selarong. Padahal, bangsal ini kerap dijadikan jujugan wisatawan untuk menikmati panorama alam dari ketinggian. “Sekarang nggak ada yang ke sana (bangsal),” ucapnya.

Kerusakan lain yang cukup mengganggu pemandangan adalah longsornya tebing di sisi timur tangga. Tumpukan material masih terlihat menumpuk di belakang salah satu bangunan. Tuji menyebut tebing yang longsor memang berada di atas tanah perseorangan. Kendati begitu, lokasinya berada di dalam kawasan Gua Selarong. “Jalan di depan gua juga ambles,” lanjutnya.

Sebagai warga, Tuji berharap sentuhan pemerintah tidak sebatas perbaikan. Lebih dari itu, berupa penataan ulang kawasan Gua Selarong. Pertimbangannya, kawasan obwis yang terletak di Dusun Kembang Putihan ini kurang manis. Wisatawan lebih banyak menghabiskan waktu di lokasi gua.”Sehingga warga kurang begitu merasakan efek manfaat perekonomiannya,” katanya.

Senada diungkapkan Slamet Supriyanto. Pedagang makanan ringan di kawasan Gua Selarong tak menampik saluran drainase di bawah tangga masuk sudah diperbaiki. Kendati begitu, saluran drainase persisnya yang mengalirkan air dari atas bukit ke bawah masih belum tertangani. “Di atas masih banyak material bebatuan yang terbengkalai,” ucap Slamet sembari menunjuk titik longsor.

Kepala Bidang Pelestarian Warisan dan Nilai-Nilai Budaya Dinas Kebudayaan Bantul Kesi Irawati mengaku telah menginventarisasi kerusakan infrastruktur di kawasan Gua Selarong. Bahkan, Disbud telah mengalokasikan anggaran perbaikan pada akhir 2017. Namun, penanganan saat itu masih terbatas pada perbaikan saluran drainase di bawah tangga masuk.”Menjadi prioritas agar air dari atas mengalir ke sungai,” katanya.

Kendati masih banyak kerusakan yang belum tertangani, Kesi memastikan, tidak ada alokasi anggaran pada APBD 2018. Termasuk perbaikan akses jalan menuju bangsal sekalipun. Itu karena Disbud hanya berwenang menangani Gua Selarong sebagai cagar budaya. Bukan obwis. (zam/din/mg1)