GUNUNGKIDUL– Jangan sembarangan memosting foto di dunia maya. Apalagi jika dibumbui dengan tulisan bernada kebencian. Tak sedikit orang harus berurusan dengan hukum, bahkan berujung bui, karena masalah itu. Seperti halnya yang dialami anak baru gede (ABG) asal Banguntapan, Bantul, ini. RDA,17, harus berurusan dengan polisi gara-gara mengunggah foto seorang polentas ke media sosial.

RDA melakukannya setelah terjaring razia keselamatan lalu lintas di Jalan Wonosari-Semanu. Tepatnya di Padukuhan Wukirsari, Baleharjo, Semanu.

Saat itu polantas menghentikan setiap pengendara motor yang melintas untuk diperiksa kelengkapan surat-suratnya. Nah, saat itu RDA mengabadikan momen “cegatan” tersebut dengan kameranya. Beberapa waktu kemudian RDA memosting foto salah seorang polantas yang sedang bertugas.

Yang menjadi masalah bukan materi fotonya. Melainkan tulisan “TAIK” pada status foto tersebut. Oleh polisi tulisan tersebut dianggap kategori ujaran kebencian. “Itu terjadi 9 Februari lalu. Anggota yang sedang melaksanakan tugas waktu itu melapor ke SPKT Polres Gunungkidul,” ungkap Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Gunungkidul Ipda Gatot Sukoco Gatot Sukoco Selasa (20/3).

Untuk memberikan efek jera, kasus tersebut pun ditindaklanjuti dengan penangkapan pelaku.

Menurut Gatot, kasus tersebut masuk dalam tindak pidana informasi dan transaksi elektronik (ITE) karena bermuatan penghinaan. Hal ini sebagaimana diatur dalam pasal 27 ayat (3) Jo pasal 45 ayat (3) UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE.

“Karena pelaku masih di bawah umur, kasus ini diselesaikan secara diversi,” jelasnya.

Sementara itu, Kapolres Gunungkidul AKBP Ahmad Fuady mengimbau masyarakat memanfaatkan media sosial untuk hal-hal positif. “Bersosial media boleh saja, tapi harus bijak,” tuturnya.

Media sosial, lanjut Kapolres, seharusnya menjadi sarana komunikasi dan silaturahmi. Bukan sebaliknya.(gun/yog/mg1)