TOTOK HARTANTO (DESA EDUKASI BENCANA FOR RADAR JOGJA)

Totok Hartanto berdiri memandang genting atap rumah yang tak lagi berpenyangga. Tembok rumah itu hancur dihantam wedhus gembel (awan panas) dari puncak Merapi. “Dulu ini rumah saya,” ungkap Totok sambil menunjuk puing bangunan di depannya. Bersama tiga sejawatnya, pria bertubuh gempal itu berusaha mengumpulkan puing-puing sisa erupsi Merapi yang berserakan. Dari puing itulah Totok menggagas Desa Edukasi Bencana. Bersama Arifin Hartanto, Anwar Shidqi, dan Lilik Rudiyanto.

Pria lajang itu tercatat sebagai warga Dusun Srodokan, Gungan, Argomulyo, Cangkringan. Kini dia tinggal di hunian tetap (Huntap) Dongkelsari, Wukirsari, Cangkringan. Menjadi korban bencana dahsyat merupakan pengalaman kelam baginya. Karena itulah Totok bertekad mendirikan kawasan edukasi bencana erupsi, yang sekaligus menjadi destinasi wisata alam. Desa Edukasi Bencana yang resmi berdiri awal 2018 ini berada di Kompleks Huntap Dongkelsari. Salah satu aset di desa ini adalah Museum Kebencanaan. Koleksinya berupa foto-foto dokumentasi kawasan terdampak erupsi Merapi dan aneka perabotan rumah tangga milik korban yang terhampar awan panas maupun lava pijar. “Kami ingin menyuguhkan sesuatu yang berniali edukasi dan bermanfaat bagi pengunjung kawasan wisata lava tour Merapi,” ucap pria yang akrab disapa Sondong. “Dengan melihat koleksi museum ini, siapa pun akan memahami kekuatan Merapi, sehingga selalu siap menghadapi bencana,” lanjut Sondong sambil menyeruput teh hangatnya.

Pria yang sejak 2015 menjabat dukuh Srodokan ini mengaku tak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Tak butuh waktu lama baginya untuk kembali bangkit dari keterpurukan. Dalam situasi yang serba sulit, apalagi sebagai korban erupsi Merapi, Sondong berupaya membakar semangat warganya lewat ide-ide briliannya.

Selain museum, Sondong juga membangun rumah baca dan rumah batik. Semuanya terbuka untuk umum. Khusus rumah batik, selain menjadi tempat pameran produk hasil karya warga, sekaligus sebagai workshop. Sondong juga menginisiasi terbentuknya beragam usaha kecil mikro.

Gayung bersambut, kiprah Sondong mendapat dukungan penuh warga setempat. Roda ekonomi masyarakat pun berputar dinamis. Banyak produk olahan industri rumah tangga yang dihasilkan. Seperti yogurt susu kambing, aneka olahan jamur tiram, kain batik tulis, kerajinan tangan berupa tas atau gelang, hingga kaus. “Semua ini demi mewujudkan mimpi untuk memajukan daerah saya,” katanya.

Dengan beragam produk khas Merapi yang berbanding lurus dengan tingkat kunjungan wisata, kesejahteraan masyarakat pun meningkat. Ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Selain memberikan edukasi bagi wisatawan, masyarakat setempat mendapat manfaat dari hasil menjual produk hasil rumah tangga.

Tak sedikit pesohor pernah berkunjung di Desa Edukasi Bencana. Sebut saja Bupati Sleman Sri Purnomo, Gubernur DIJ Hamengku Buwono, hingga mantan Kepala Badan Geologi ESDM Surono. Demikian pula turis mancanegara. “Pernah ada turis asal Jepang dan Meksiko. Belum lagi turis-turis domestik,” kata sosok kelahiran 11 Desember 1983.

Di Desa Edukasi Bencana, pengunjung dimanjakan dengan kearifan lokal masyarakat lereng Merapi. Ditambah bonus pemandangan alam Merapi yang eksotis.

Seiring perkembangan teknologi informasi, Sondong pun tak mau ketinggalan dengan membuat website http://wukirsari-sleman.sid.web.id untuk mengeksplorasi semua kekayaan Desa Edukasi Bencana. Dia juga rajin berselancar di dunia maya melalui Instagram dengan akun @visithuntapdongkelsari. Semua itu guna memperluas jaringan dan mengenalkan Desa Edukasi Bencana kepada dunia. (yog/mg1)