(GRAFIS: ERWAN TRICAHYO/RADAR JOGJA)

JOGJA – Aksi skimming merambah nasabah bank di wilayah DIJ. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIJ Sri Fitriani membenarkan hal tersebut. Bahwa BI Perwakilan DIJ telah menerima laporan korban kejahatan skimming. Namun, Fitri, sapaannya, enggan membeberkan jumlah korban, nilai kerugian, maupun lembaga perbankan yang menjadi sasaran skimming. Yang pasti, kata Fitri, pihak bank yang bersangkutan telah mengganti kerugian nasabah tersebut.

“Pokoknya tidak lebih dari lima (korban, Red),” ucapnya di kantor BI Perwakilan DIJ Senin (19/3).

Nilai kerugian nasabah pun, menurut Fitri, tak begitu besar. Apalagi jika dibandingkan kerugian korban skimming secara nasional. Fitri beralasan, pelaku skimming di DIJ hanya bisa melakukan satu kali penarikan uang maksimal Rp 10 juta dari rekening nasabah.

Dari laporan yang diterima, penarikan uang nasabah tersebut dilakukan di Jawa Barat oleh seorang pelaku yang seolah-olah dilakukan di Malaysia. “Begitu ada notifikasi penarikan mencurigakan dan laporan transaksi ilegal, bank langsung memblokir rekening nasabah,” jelasnya.

Untuk mencegah skimming, Fitri mengimbau nasabah bank mengganti kartu anjungan tunai mandiri (ATM) berbasis magnet hitam ke chip. Langkah ini akan dilakukan secara bertahap mulai 2018 hingga 2021. “Pada 1 Januari 2021 sudah diganti chip semua,” katanya.

Nasabah bank diimbau berhati-hati saat bertransaksi di boks ATM dan tidak memberikan nomor pin kepada siapa pun. Bila perlu saat memasukkan nomor pin ditutupi dengan tangan. Dikatakan, pelaku skimming tak bisa menguras saldo rekening sasaran hanya mengandalkan skimmer. Sebab, skimmer hanya berfungsi mengkloning data nasabah. Untuk menarik uang nasabah, pelaku tetap harus mengetahui nomor pin ATM yang bersangkutan.

Sementara itu, saat masyarakat masih dihebohkan dengan kasus skimming, jajaran Ditreskrimum Polda DIJ berhasil membongkar sindikat penukar kartu ATM. Dua tersangka, Santianis,59, dan Andi Irwan,34, diringkus usai mencairkan uang Rp 29 juta di boks ATM di halaman parkir Rumah Sakit Bethesda, Jumat (16/3).

Direskrimum Kombes Pol Hadi Utomo mengungkapkan, kedua pelaku beraksi dengan memanfaatkan kelengahan korban. Caranya, kedua pelaku berakting seolah tak saling kenal. Salah seorang pelaku kemudian mengalihkan perhatian korban dengan terus mengajak berbincang saat memasuki boks ATM. Modusnya, bicara tentang dana bantuan sosial. Salah seorang pelaku, Santianis, mengaku memiliki rekening berisi Rp 900 juta. Untuk meyakinkan sasarannya, pelaku mengiming-imingi pemanfaatan dana sosial tersebut. Namun, dana itu baru bisa ditransfer setelah pelaku mengetahui saldo di rekening korban. Lalu dia memengaruhi korban untuk mengecek rekening lewat mesin ATM.

Saat korban lengah pelaku satunya mengganti kartu ATM korban dengan kartu lain yang serupa. Sebelum tertangkap, pelaku juga telah beraksi di RSA UGM. “Dari tangan pelaku kami amankan 98 kartu ATM dan uang transfer sebesar Rp 103 juta dan Rp 29 juta,” ujarnya kemarin.

Kedua pelaku dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian bersekutu. Tapi, tak menutup kemungkinan pelaku akan disangka dengan pasal tindak pidana pencucian uang.

Berdasarkan modus tersebut, Direskrimum meyakini ada jaringan lebih besar. Terutama untuk menampung uang hasil tipu-tipu. “Pelaku sudah kami intai selama dua bulan. Kami juga berkoordinasi dengan polda lain untuk mengungkap sindikat ini,” kata perwira menengah Polri dengan dua melati di pundak.

Salah seorang korban, Yuliyanto, 61, mengaku, pernah tertipu tahun lalu. Tepatnya saat mengantar anaknya di RS Panti Rapih. Saat itu dirinya bertemu dengan Santianis, yang ketika itu mengaku sebagai konsultan Pertamina. “Saya sudah laporkan kasus ini ke Polsek Gondokusuman, tapi tak ada perkembangan hingga diungkap Polda DIJ,” paparnya.

Yuliyanto mengatakan, saat beraksi Santianis berpartner dengan seseorang yang mengaku bernama Ismail. Yuliyanto diajak ke ATM untuk mengecek saldo. “Saya sempat menolak karena baru kenal, tapi kedua pelaku mepet kanan dan kiri,” katanya. Tanpa disadari, kartu ATM milik Yuliyanto pun telah ditukar. Ketika itu Yuliyanto kehilangan uang Rp 17,5 juta di rekeningnya.(bhn/dwi/yog/mg1)