PURWOREJO – Tidak banyak peninggalan dari sosok Wage Rudolf (WR)
Soepratman, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya” di desa tempat
kelahirannya, Somongari, Kecamatan Kaligesing, Purworejo. Hanya
bangunan berukuran sedang dari kayu jati di Dusun
Tembelang serta prasasti tentang ibu WR Soepratman, Senen, yang
dibuatkan semacam tanam namun tak terawat di dekat balai desa.

Ya, jejak WR Soepratman yang lahir tanggal 19 Maret 1903 memang tidak
banyak yang bisa didokumentasikan dari desa penghasil durian dan
manggis itu. Ia hanya sebentar saja berada di tanah
Somongari, sebelum akhirnya kembali ke Jakarta untuk berkumpul lagi
dengan keluarganya. Kalaupun pernah datang ke Somongari, dalam cerita
yang ada, hanya dilakukan sekali saat ia berusia 24 tahun. Itu pun
tidak sampai ke tempat dirinya dilahirkan, karena hanya berada di
sekitar pusat pemerintahan desa, sekitar 1,5 kilometer
dari tempat lahirnya.

Panut Maryono, 53, juru pelihara tempat lahir sang komponis mengatakan,
dari berbagai informasi yang ada, WR Soepratman adalah putera ketujuh
pasangan Karto Dikromo-Senen yang memiliki 9 anak. Ayahnya
merupakan tentara KNIL Belanda yang berasal dari Godean, Sleman,
Jogjakarta, sementara yang asli Somongari adalah Senen, ibunya.

Setelah menikah, kedua orang tua WR Soepratman hijrah ke Jakarta dan
melahirkan putera-puteri mereka. Hanya saat menjelang kelahirannya,
orang tua WR Soepratman berselisih paham dan sang ibu memilih pulang
ke kampung halamannya.

“Dulu ada saksi hidup yang menyaksikan penguburan ari-ari WR
Soepratman yang ditempatkan di depan rumah ini. Dari sumber itu
dikatakan kalau saat usia Pak WR 36 hari, kemudian dibawa kembali ke
Jakarta karena orang tuanya sudah baikan,” jelas Panut Senin (19/3).

Dari banyak kerabat WR Soepratman yang ada, hanya beberapa saja yang
memiliki keturunan, sementara sang tokoh sendiri hingga akhir hayatnya
tidak memiliki keturunan. Adanya cerita pernikahan dengan Salamah,
tidak pernah diakui oleh pihak keluarga.

“Hanya seputar itu saja tentang kehidupan Pak WR yang bisa kami
ketahui. Karena memang tidak ada bagian keluarga langsung dari Pak WR
yang masih ada di Somongari. Saudara Ibu Senen sendiri yakni Sembol
dan Seno, juga tidak berdiam di Somongari,” urainya.

Soal tempat kelahirannya sendiri, rumah yang ada sekarang sebenarnya
bukanlah milik pasangan orang tuanya. Senen hanya menempati rumah yang
jatuh warisnya ke Sembol. Sementara status tanahnya sendiri bukan
milik Singoprono yang tidak lain adalah kakek WR Soepratman.

“Yang punya hak atas tanah ini dulu Pak Joyo Dullah, dan
keluarga Singoprono hanya menggunakan saja. Dulunya tidak bagus
seperti ini Mas karena hanya dari dabag (anyaman bambu, Red) dan
bergenting ijuk saja. Tampilan sekarang setelah tanah dibeli pemkab
dan direhab seperti bentuknya dulu, hanya bahannya berbeda,” ungkap
Panut.

Meski tidak banyak meninggalkan jejak, WR Soepratman
tetap membawa spirit tersendiri bagi masyarakat Somongari. Setidaknya
keberhasilannya menjadi tokoh nasional akan terus menginspirasi
masyarakat di wilayah itu. Mereka pun tidak pernah lupa akan WR
dan tetap memberikan penghormatan dengan melakukan berbagai kegiatan
saat tanggal kelahiran WR Soepratman. (udi/laz/mg1)